lukito on December 9th, 2016

Sering berdiskusi dengan teman-teman akademisi di perguruan tinggi, terutama di daerah, membuka mata saya bahwa banyak perguruan tinggi di sana yang masih memerlukan bantuan dan dukungan dalam berbagai hal. Meskipun mungkin kecil, tetapi ijinkan saya menawarkan apa yang saya miliki untuk dimanfaatkan.

Idenya sederhana saja: berbagi pengetahuan, dan ide ini sering dilakukan di banyak perguruan tinggi di luar negeri. Akademisi dipandang sebagai seorang yang memiliki ilmu dan pengetahuan yang bisa dibagikan kepada orang lain, sehingga saat ia pergi ke sebuah kota, ia dapat diminta untuk membagikan pengetahuannya di perguruan tinggi di kota tersebut.

Proses berbagi pengetahuan ini “ringan” dan tidak memberatkan pihak yang diundang maupun yang mengundang. Proses ini tidak memerlukan banyak persiapan, tenaga, dan biaya dari kedua pihak. Akademisi narasumber tidak perlu menyiapkan diri secara khusus. Dia hanya perlu datang dan bercerita tentang hal yang akan dibagikannya. Perguruan tinggi pengundang juga tidak perlu mengeluarkan banyak sumberdaya (tidak perlu membentuk panitia dan mengeluarkan dana besar). Cukuplah mengundang orang-orang yang bisa mendapatkan manfaat dari pengetahuan yang akan dibagi dan menyiapkan ruang tempat pelaksanaannya. Tidak perlu memasukkan kegiatan ini secara khusus dalam rencana anggaran tahunan. Tidak perlu menyiapkan honor atau biaya transportasi bagi si akademisi. Tidak perlu mencarikan hotel juga.

Intinya, implementasinya sederhana saja: buat kesepakatan waktu, bertemu, laksanakan kegiatan dalam waktu 1-2 jam, selesai. Inilah yang ingin saya tawarkan kepara teman-teman di perguruan tinggi di daerah.

Saya sering bepergian ke luar kota, entah karena itu diundang untuk memberikan ceramah, melakukan asesmen lapangan dalam rangka akreditasi BAN-PT, mewawancarai calon penerima beasiswa, atau kegiatan lain. Sering kali dalam tugas-tugas tersebut saya punya sedikit waktu luang, biasanya setelah tugas saya selesai sambil menunggu jadwal kepulangan. Slot waktu luang inilah yang ingin saya tawarkan kepada teman-teman di perguruan tinggi di kota yang sedang saya kunjungi tersebut. Silakan memanfaatkan saya untuk berdiskusi, memberikan kuliah umum, mengisi seminar atau workshop (kalau jadwal seminarnya kebetulan bersamaan), atau kegiatan lain yang bisa bermanfaat bagi teman-teman.

Bagaimana caranya?

Setiap kali bertugas ke luar kota dan ada waktu luang, beberapa hari sebelumnya saya akan posting pengumuman di situs web ini dan juga di halaman Facebook saya. Selanjutnya langkah-langkahnya sbb:

1. Jika teman-teman berminat memanfaatkan saya, silakan kirim pesan pribadi (personal message) via Facebook (pesan pribadi, bukan menulis di wall saya). Jika belum menjadi teman atau follower saya, silakan cari akun saya di Facebook dengan ID: Lukito Edi Nugroho.

2. Dalam pesan pribadi tersebut, tuliskan: 1) nama dan institusi anda, 2) materi yang diinginkan, 3) peserta yang menjadi sasaran.

3. Prinsipnya permintaan akan dilayani secara first-come-first-served, tetapi jika dalam satu waktu ada lebih dari 1 permintaan, saya akan memilih salah satu yang menurut saya paling urgen.

4. Saya akan membalas permintaan terpilih dan mendiskusikan detil teknis pelaksanaannya via pesan pribadi Facebook juga.

Materi apa yang bisa saya sampaikan? Silakan menyimpulkan sendiri dari pengalaman-pengalaman saya selama ini, yang secara singkat bisa dibaca melalui tautan ini: http://lukito.staff.ugm.ac.id/tentang/

Sekali lagi, tawaran ini bersifat ringan dan tidak untuk memberatkan baik saya maupun teman-teman. Spontanitas saja, tidak perlu perencanaan dan persiapan yang terlalu berat. Tidak perlu juga memfasilitasi transportasi antar kota dan akomodasi saya atau memberikan honorarium, karena semua itu sudah ada pihak lain yang menanggung. Saya hanya memanfaatkan waktu luang yang ada. Sebaliknya juga jangan meminta yang berat dari saya, yang membuat saya harus menyiapkan diri secara berat juga.

Kalau dari kegiatan berbagi ini nanti ada materi presentasi atau lainnya, akan saya posting di blog pribadi ini juga.

Tujuan saya hanya satu: menjadi satu sekrup kecil bagi usaha perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia.

Pemberlakuan peraturan baru tentang kenaikan jabatan/pangkat dosen telah memicu rush pengusulan kenaikan jabatan/pangkat oleh dosen yang memang sudah memenuhi syarat. Hari-hari ini adalah hari-hari yang sangat melelahkan bagi para dosen, para reviewer karya ilmiah, para karyawan yang bertugas di bagian administrasi SDM, dan juga para karyawan di Dikti, khususnya di Ditendik. Dikti pasti disibukkan dengan penerimaan berkas usulan dan lampirannya yang masing-masing kalau ditumpuk tingginya bisa mencapai setengah meter atau lebih. Apalagi sekarang usulan untuk golongan III pun juga harus sampai ke Dikti. Kita bisa membayangkan berapa banyak ruang yang harus disediakan untuk menampung tumpukan berkas usulan, berapa banyak waktu yang harus disediakan untuk mencermati satu persatu, dan berapa banyak biaya untuk menjalankan semua proses yang harus dilaksanakan. Semua ini harus ditanggung Dikti.

Read the rest of this entry »

lukito on March 4th, 2014

Sebagai dosen, akhir-akhir ini saya merasa ada yang salah dalam menjalankan kegiatan-kegiatan saya. Seharusnya aktivitas-aktivitas saya akan menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman di bidang keilmuan saya, tapi ternyata tidak. Akhir-akhir ini saya malah merasa menjadi mahir dalam melacak dokumen-dokumen SK, sertifikat seminar, prosiding-prosiding seminar yang pernah saya ikuti, dan sebagainya. Saya juga trampil dalam mengoperasikan mesin fotokopi dan scanner, tidak kalah dengan karyawan fotokopi beneran. Teman-teman saya juga begitu, apalagi hari-hari ini mereka yang mengusulkan kenaikan jabatan harus berkejaran dengan waktu karena mulai Mei 2014 nanti Dikti akan menerapkan aturan baru dalam kenaikan pangkat/jabatan yang, tentu saja, lebih sulit dan strict dibandingkan dengan aturan saat ini. Sungguh hari-hari ini mereka berubah menjadi pekerja administratif dan bukan pengawal kemajuan intelektual SDM.

Read the rest of this entry »

Mungkin karena merasa gatal juga akibat huru-hara SIPKD yang tidak kunjung selesai, mungkin juga karena merasa ikut bertanggung jawab telah menulis artikel blog yang bikin rame, hari ini saya menyelesaikan tulisan baru berisi beberapa pemikiran tentang penyempurnaan SIPKD (dan sistem-sistem Dikti lainnya). Usulan ini didasarkan pada tujuan Dikti untuk merekam data kinerja dosen secara lengkap (ini adalah tujuan yang baik), yang saya gabungkan dengan modifikasi sistem yang ada saat ini untuk mengakomodasi peran/fungsi Dikti yang sebenarnya (sebagai regulator dan fasilitator).

Tulisan ini bukan tulisan ilmiah, hanya sekedar corat-coret ide. Mungkin saja ada ketidakakuratan karena saya tidak melakukan investigasi mendalam tentang sistem-sistem informasi Dikti. Mohon koreksinya kalau ada yang terlewat atau ketidakakuratan. Tujuan saya hanyalah menyediakan wacana untuk berdiskusi tentang bagaimana sebaiknya sistem-sistem Dikti dikembangkan, syukur kalau sampai ke para pengambil keputusan di Dikti dan kemudian ditindaklanjuti.

Akhirnya, selamat menikmati!

http://lukito.staff.ugm.ac.id/files/2014/02/Usulan-Perbaikan-Sistem-SIPKD.pdf

 

lukito on January 15th, 2014

Maaf jika judulnya agak provokatif, karena Dikti memang perlu dikritisi secara keras.

SIPKD sudah hidup lagi, dengan tampilan baru, tetapi semangatnya masih yang lama. Saya belum sempat mencobanya kembali, tetapi dari cerita teman-teman yang sudah pernah mengakses, sepertinya juga masih ada masalah. Read the rest of this entry »

lukito on December 23rd, 2013

Baru-baru ini dosen di Indonesia dihebohkan oleh instruksi dari Ditendik, Dikti untuk mengisi form online Sistem Informasi Pengembangan Karir Dosen (SIPKD). Kalau mendengar dan membaca komentar para dosen, kehebohan ini disebabkan karena persoalan-persoalan yang menyangkut 3 perkara: 1) kebijakan Dikti, 2) aplikasi SIPKD, dan 3) implementasi SIPKD.

Read the rest of this entry »

lukito on December 21st, 2013

Sebentar lagi ujian akan dimulai, dan para mahasiswapun akan berjuang untuk menjawab soal-soal yang diberikan oleh para dosen. Kali ini saya akan menulis tips menjawab soal-soal essay. Soal essay biasanya bertipe terbuka, artinya tidak ada satu jawaban tunggal yang bersifat mutlak benar, sehingga kebenaran jawaban sangat ditentukan oleh kebenaran substansi/konsep yang digunakan dan argumentasi/penjelasan yang disampaikan. Read the rest of this entry »

lukito on October 21st, 2013

Malam minggu kemarin, seperti beberapa kali sebelumnya, saya diajak nonton bareng oleh mahasiswa-mahasiswa saya. Biasanya kami nonton dalam jumlah banyak, sekitar 10-15 orang, bahkan pernah sekali waktu rombongannya berjumlah 32 orang. Yang berbeda kali ini adalah yang mengajak. Kalau dulu yang sering mengajak adalah mahasiswa S1, akhir-akhir ini justru mahasiswa S2 dan S3, khususnya yang berasal dari Lab Aplikasi Terdistribusi dan Jaringan Komputer. Geng Jarkom, begitu kelompok ini dikenal.

Read the rest of this entry »

lukito on July 11th, 2013

Menjadi guru besar (profesor) pastilah menjadi idaman banyak dosen. Selain statusnya yang memang keren, secara finansialpun jabatan akademik ini menjanjikan kemapanan. Meskipun persyaratan menjadi profesor semakin hari semakin berat, tetap saja jabatan ini menjadi cita-cita sebagian besar dosen.

Read the rest of this entry »

lukito on June 3rd, 2013

Dalam tulisan pertama, saya menuliskan tentang penyebab pertama mengapa orang sulit untuk berubah: kegagalan melihat perlunya berubah, meski sudah paham di depannya menghadang bahaya (atau ada peluang yang sebenarnya bisa dimanfaatkan). Ketidakmampuan melihat urgensi perubahan ini disebabkan oleh mindset atau mental map yang berlaku pada masa lalu yang terbukti berhasil. Mental map ini cenderung “menarik” kita untuk bertahan pada cara pandang yang lama, meski sebenarnya kita tahu bahwa pandangan itu keliru.

Read the rest of this entry »