Jika pertanyaan tersebut diajukan kepada saya, maka jawabannya sederhana saja: memenuhi harapan bapak. Dulu bapak saya pernah mengatakan,”Kalau serius mau jadi dosen, ya harus sekolah sampai doktor”. Apa alasan persisnya, bapakpun mungkin juga tidak tahu. Tiap orang punya jawaban yang berbeda. Spektrumnyapun bisa bervariasi, dari jawaban yang iseng sampai yang sangat serius dan ilmiah. Meskipun mungkin menarik untuk membahas jawaban-jawaban tersebut, tapi Bab ini tidak akan membicarakan tentang hal itu. Bab ini justru akan mengupas tentang hal-hal yang “berat” dari gelar doktor. Maksudnya bukan untuk mengecilkan semangat bagi mereka yang akan berusaha meraihnya, tapi lebih pada meletakkan gelar tersebut pada posisi dan peran yang sesuai, agar siapapun yang memiliki gelar ini bisa memberikan kontribusinya secara maksimal.

Saat ini gelar doktor memang sedang menjadi primadona. Sesuatu yang sexy, kata orang, sehingga banyak diburu. Siapa saja yang gencar memburu gelar ini? Mengapa mereka melakukannya?

Pemburu gelar doktor yang paling antusias tentu saja adalah orang-orang yang bekerja di dunia akademik dan riset. Bagi para dosen di perguruan tinggi dan peneliti di lembaga-lembaga riset, gelar doktor adalah tujuan formal yang paling tinggi dalam jenjang pendidikan akademik yang mungkin mereka tempuh. Bagi para insan akademik, derajad doktor tidak hanya dilihat sebagai atribut yang bersifat eksternal (seperti sebutan “haji” misalnya), tetapi lebih merupakan tuntutan yang melekat pada profesi pendidik itu sendiri. Tidak ada dosen yang tidak ingin meraih gelar doktor, karena pencapaian itu merupakan bagian dari tugas pekerjaan sebagai dosen. Apalagi perguruan tinggi sendiri menawarkan jenjang ini sebagai salah satu core businessnya (seperti disebutkan dalam Peraturan Pemerintah nomor 60 tahun 1999).

Selain itu, pasal 31 ayat (1) Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menetapkan bahwa yang berhak mengajar pada program magister (S2) dan doktor (S3) adalah mereka yang memiliki gelar S3. Syarat formal ini membuat para dosen di perguruan tinggi yang memiliki program S2 dan S3 semakin berkeinginan untuk meraih gelar akademik tertinggi ini.

Selain itu, diakui atau tidak, di lingkungan kampus atau lembaga riset masih ada budaya tak tertulis tentang perbedaan perlakuan atau pandangan berdasarkan status akademik. Pemegang gelar S3 mendapatkan hak atau privilege dalam berbagai bentuk, yang tidak bisa dinikmati oleh mereka yang “hanya” memiliki gelar S2 atau S1. Contohnya, akhir-akhir ini mulai muncul beberapa iklan di media massa untuk mencari kandidat pejabat perguruan tinggi (dekan atau rektor). Dalam persyaratannya hampir semua mencari calon yang bergelar doktor. Di tempat kerja saya, bahkan syarat untuk menjadi ketua jurusanpun salah satunya adalah memiliki gelar S3. Apakah benar seorang doktor selalu lebih mumpuni dalam hal pengelolaan institusi pendidikan tinggi dibandingkan seorang master atau sarjana? Apakah persyaratan tersebut lebih bertujuan untuk menjaga image branding, tidak ada yang tahu jawaban pastinya.

Pada tataran yang lebih informal, masih juga banyak dijumpai budaya “look who’s talking”. Kalau ada orang berpendapat, dilihat dulu siapa dia. Pendapat dari seorang doktor pada umumnya lebih diperhatikan daripada pendapat orang yang bukan doktor (kecuali untuk kasus-kasus tertentu yang memang eksepsional). Wajarlah jika fenomena semacam ini juga memicu orang untuk meraih derajad akademik tertinggi ini.

Tentu saja banyak orang yang dimotivasi oleh karakteristik dari program doktor itu sendiri. Salah satu kriteria lulus doktor adalah penelitiannya memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Agar bisa memberikan kontribusi yang signifikan, riset S3 harus mengandung orisinalitas. Orisinalitas berarti berada di sisi paling depan dalam topik yang ditelitinya. Orang sering mengatakan bahwa seorang doktor adalah orang yang paling tahu/mengerti tentang topik risetnya. Perasaan “berada di ujung depan” ini sering menjadi motivasi internal yang dahsyat bagi seorang mahasiswa S3. Baginya, kondisi ini menjadi pendorong untuk senantiasa berkarya mengembangkan bidang ilmunya dengan melakukan riset-riset dan mempublikasikan hasilnya, tidak hanya selama ia belajar, tetapi bahkan setelah selesai studinya.

Ada juga yang bersemangat sekolah S3 karena tertarik dengan prosesnya. Belajar pada jenjang S3 tidak seperti belajar pada jenjang yang lebih rendah. Ada tuntutan untuk bisa mandiri dalam menjalankan risetnya, selain ketrampilan dalam mengeksplorasi unknown areas dan menemukan  hal-hal menarik yang bisa dikontribusikan. Bagi seorang yang punya jiwa ilmuwan, perjalanan intelektual ini sangat menantang karena dapat memberikan penghargaan yang sesuai dengan jiwanya: kepuasan batin karena bisa menemukan hal-hal baru yang bermanfaat.

Popularitas gelar doktor juga meningkat di kalangan non-akademik. Dalam beberapa tahun terakhir ini cukup banyak orang-orang yang dikenal berkarya di bidang non-akademik juga tertarik mendapatkan gelar doktor. Pejabat pemerintah, direksi BUMN, pebisnis, sampai ke politisi dan pengurus partai politik juga tertarik menceburkan diri dalam arus ini. Belum ada yang meneliti secara ilmiah tentang fenomena ini, tetapi analisis sederhana tentang penyebabnya adalah sifat masyarakat Indonesia yang gemar terhadap simbol-simbol sosial. Doktor adalah simbol kepandaian dan intelektualitas. Doktor juga sedikit banyak mencerminkan status ekonomi yang cukup tinggi, karena biaya pendidikannya cukup mahal. Singkat kata, doktor adalah merk (brand) yang bernilai tinggi. Dengan gelar ini, si pemegang berharap bisa mendapatkan penghargaan sosial yang tinggi dari lingkungannya. Suka atau tidak, inilah kenyataan yang berkembang di sebagian masyarakat Indonesia.

Tapi apa yang sebenarnya diharapkan dari seorang doktor? Apakah benar doktor hanya berhenti sebatas status sosial saja? Mestinya tidak, karena nilai tinggi dari sebuah image selalu muncul dari substansi yang memang berkualitas.

Harapan Bagi Seorang Doktor

Tentang tanggung jawab moral bagi seseorang yang telah menyandang gelar doktor, saya jadi teringat film Spiderman. Dalam film ini, paman Ben mengatakan kepada Peter Parker,”With great power, comes great responsibility” (Sony Pictures, 2009). Ungkapan tersebut berlaku juga bagi seorang doktor, yang dengan gelar itu ia punya posisi terhormat. Sayangnya banyak yang lupa atau bahkan tidak memahami tentang tanggung jawab moral yang mengikutinya, sehingga kontribusi dan karyanya berhenti setelah gelar S3 diperoleh. Yang lebih memprihatinkan adalah bahwa ketidaktahuan tentang hal ini kemudian berimplikasi pada proses studi yang tidak berjalan secara semestinya.

Ada oknum-oknum yang tergiur menempuh jalan pintas yang menyesatkan: tidak mau bersusah payah menempuh proses riset S3. Hukum ekonomipun berlaku: jika ada permintaan, maka ada penawaran. Muncullah kasus jual-beli ijazah. Perguruan-perguruan tinggi “papan nama” muncul dengan tawaran program doktor instan, hanya dengan “kuliah” sekian bulan dan membayar sekian Rupiah atau Dollar, ijazahpun bisa digenggam. Perlu dicatat bahwa beberapa perguruan-perguruan tinggi bodong semacam ini justru berlokasi di negara-negara maju.

Modus jalan pintas yang lain adalah dengan memanfaatkan biro-biro jasa pembuatan disertasi. Di kota-kota basis pendidikan di Indonesia banyak sekali usaha-usaha biro jasa semacam ini. Iklannya bertebaran di mana-mana, dari koran, Internet, sampai kertas lusuh yang di-laminating dan ditempel di pohon. Oknum yang bersangkutan bisa saja resmi terdaftar sebagai mahasiswa S3 di sebuah perguruan tinggi, tetapi dia mengabaikan tahapan-tahapan riset yang menjadi roh studi S3 itu sendiri. Dengan bantuan sebuah biro jasa, mulai pemilihan topik sampai dengan penulisan naskah disertasinya direkayasa sedemikian rupa sehingga kelihatan seolah-olah asli. Dia sibuk merekayasa proses, bukan menjalani prosesnya.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, seorang doktor berdiri di ujung horison perkembangan ilmu di bidangnya. Dia berada di tip of the edge, sehingga tugasnya setelah menyelesaikan studi doktoralnya adalah melanjutkan pengembangan ilmu di bidang tersebut. Berdasarkan penelitian yang telah ia lakukan selama studi, ia mengeksplorasi daerah-daerah baru yang belum terjamah dengan riset-riset lanjutan. Hasilnya dikontribusikan dalam bentuk tulisan ilmiah atau aplikasi-aplikasi nyata, dan siklus ini berlanjut terus. Dengan cara inilah ilmu pengetahuan bisa berkembang, dan peran seorang doktor adalah menjadi ujung tombak dalam usaha ini.

Memang harus diakui bahwa peran di atas sangatlah ideal, dan banyak doktor di Indonesia tidak mampu menjalankannya karena berbagai sebab. Seorang doktor baru, terutama yang berasal dari luar negeri, biasanya memiliki semangat besar dalam menjalankan peran barunya itu. Sayangnya begitu pulang ke tempat kerjanya di Indonesia, lingkungannya tidak mampu mendukung harapan yang tinggi tersebut. Banyak yang kemudian menjadi frustrasi dan akhirnya mencari jalan keluar yang jauh dari cita-cita ideal tersebut.

Meskipun peran ideal jarang yang bisa dipenuhi secara konsisten, tetap saja seorang doktor adalah manusia yang dikaruniai intelektualitas tinggi. Dengan segala keterbatasan yang ada, ia mestinya mampu mencari peluang di mana ia bisa berkontribusi melalui kapasitas intelektualnya yang tinggi tersebut. Di perguruan tinggi atau lembaga riset, ia tetap bisa berkarya, meskipun mungkin jenis risetnya tidak sama seperti saat ini bersekolah di luar negeri. Banyak problem nyata di masyarakat yang perlu dicari solusinya, dan beberapa persoalan memiliki kompleksitas yang tinggi sehingga memerlukan kapabilitas yang istimewa juga. Seorang doktor memiliki bekal dasar untuk menangani hal semacam ini, dan ini membuka peluang baginya untuk bisa berkontribusi menjalankan perannya.

Seorang doktor adalah orang yang terlatih dalam melakukan riset secara mandiri. Riset adalah sebuah aktivitas yang mengeksplorasi intelektualitas manusia untuk mencari jawaban atas persoalan yang dihadapi. Riset dilakukan menuruti prinsip dan kaidah ilmiah universal seperti berpikir secara runtut dan argumentatif, menjunjung tinggi obyektivitas dan kejujuran ilmiah, serta rendah hati dalam mengakui karya-karya orang lain yang berpengaruh atau terkait dengan risetnya. Kompetensi inilah yang dituntut dari seorang doktor, di manapun ia bekerja. Singkat kata, seorang doktor mungkin tidak bisa mempertahankan posisi leading edgenya dalam pengembangan ilmu pengetahuan karena berbagai sebab, tetapi ia tetap dituntut untuk bisa menghasilkan pemikiran-pemikiran yang bernas, obyektif, dan orisinil dalam profesinya.

Devaluasi Gelar Doktor

Tidak bisa dipungkiri bahwa motivasi seseorang untuk meraih gelar doktor adalah untuk meningkatkan kondisi sosial ekonominya. Banyak yang menganggap gelar doktor sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan mencapai tujuan tersebut, bukan karena kompetensi atau kapabilitas yang ditawarkannya, tapi lebih karena persepsi terhadap nilai gelar tersebut.

Berbicara tentang persepsi terhadap nilai gelar, ada fenomena menarik tentang persepsi masyarakat terhadap gelar akademik, khususnya pada jenjang magister atau S2. Sampai pertengahan tahun 90an, gelar S2 masih dianggap bernilai tinggi karena belum terlalu banyak orang yang memegangnya. Kondisi berubah mulai sekitar menjelang tahun 2000 saat Indonesia diterjang krisis moneter. Banyak lulusan baru S1 dan mereka yang kehilangan pekerjaan berbondong-bondong mengikuti program S2 untuk meningkatkan daya tawar mereka. Akibatnya sejak itu produksi lulusan S2 menjadi melimpah, mengisi berbagai posisi pekerjaan. Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 yang mensyaratkan seorang dosen harus bergelar minimal S2 untuk bisa mengajar di program S1 semakin mendorong dosen untuk menempuh studi pascasarjananya.

Seiring dengan bertambahnya jumlah lulusan S2, nilai persepsional terhadap gelar S2 akan menurun. Gelar master bukanlah sesuatu yang luar biasa. Bagi para pemegang gelar S2, kondisi ini mengakibatkan kompetisi yang semakin ketat di antara mereka. Mereka saling berkompetisi untuk mendapatkan pekerjaan, pengakuan (recognition), dan hak-hak khusus (privilege) yang melekat pada gelar tersebut. Gelar S2 bukanlah merupakan competitive advantage bagi pemegangnya, dan mereka harus mencari faktor-faktor lain untuk bisa memenangkan persaingan.

Kondisi yang serupa diramalkan akan terjadi pada lulusan S3 dalam waktu yang tidak terlalu lama. Seiring dengan naiknya popularitas program S3, jumlah mahasiswanyapun meningkat, dan dalam beberapa tahun kedepan, jumlah lulusan S3 juga akan bertambah. Mirip dengan fenomena yang terjadi dengan gelar S2, nilai persepsional terhadap gelar doktor akan menurun, dan gelar S3 bukanlah faktor yang menentukan dalam memenangkan kompetisi.

“Medan peperangan” bagi para doktor pada masa mendatang terletak pada seberapa jauh mereka bisa hadir dan berkontribusi di lingkungannya masing-masing. Di pergaulan akademik internasional misalnya, eksistensi seorang doktor ditentukan oleh publikasi internasionalnya atau keterlibatannya dalam berbagai kerjasama ilmiah internasional. Ada pepatah barat yang mengatakan: publish or perish. Ungkapan yang ditujukan kepada para ilmuwan ini mematok publikasi sebagai syarat eksistensi mereka.

Di lingkup lokal, kompetisi juga tidak kalah serunya. Banyak ceruk-ceruk  yang menyediakan kesempatan untuk berkontribusi dan berprestasi, tetapi banyak juga pemain yang masuk ke sana. Jurnal-jurnal dan seminar-seminar nasional, hibah-hibah riset nasional, tawaran-tawaran sebagai konsultan, sampai ke jabatan-jabatan di lingkungan pemerintahan adalah beberapa contoh battlefield bagi para doktor kita kelak.

Pertanyaannya kemudian adalah: jika gelar doktor sendiri sudah bukan lagi faktor dominan penentu kesuksesan, lalu bagaimana caranya untuk bisa survive dan berkembang?

Buku ini tidak akan menjawab pertanyaan tersebut secara spesifik, tetapi nampaknya ada satu trend menarik tentang requirements SDM pada masa yang akan datang. Daya saing seseorang akan lebih ditentukan oleh kualitas personal yang bersangkutan, bukan oleh atribut-atributnya. Banyak ahli SDM yang mencoba mengidentifikasi penentu kualitas personal, dan semuanya mengarah ke faktor-faktor seperti adaptabilitas, komitmen, semangat (passion), tidak mudah menyerah, dan fokus (Baker, 2006)(Scarborough, —)(Inglish, 2009).

Kriteria yang sama juga berlaku untuk para doktor. Tanpa kualitas personal seperti yang disebutkan di atas, mustahil untuk memenangkan persaingan. Jika hal ini terjadi, harapan yang telah lama dipupuk, serta usaha dan biaya yang telah dikeluarkan bisa menjadi sia-sia.

96 Comments on Apa Menariknya Punya Gelar Doktor?

  1. “Dulu bapak saya pernah mengatakan,’Kalau serius mau jadi dosen, ya harus sekolah sampai doktor’. ” —–lain halnya dengan bapak saya, beliau mengatakan “bapak tidak melanjutkan sampai doktor, tapi bapak mau anak bapak lah yang memperoleh gelar tersebut” …tetapi intinya sama ya Pak LEN, harapan orang tua yang memotivasi untuk melanjutkan studi 🙂

    “Ada juga yang bersemangat sekolah S3 karena tertarik dengan prosesnya.” —–nah, inilah salah satu alasan saya melanjutkan sekolah selain dari kebutuhan tentunya.. semoga bisa menyelesaikan magister tepat waktu dan kemudian melanjutkan ke jenjang doktoral..

    • amri31 says:

      pak, dari awal saya tak menyangka bisa mengenyam pendidikan s3 di ITB. hanya modal nekat dan tekat.. motivasi saya muncul saat pendidikan s3 ini untuk betul-betul bisa menjadi ilmuan/peneliti. tapi saya merasa minder karena saya tak memiliki dasar/pondasi yang kuat untuk mencapai harapan tersebut karena sejak s1 dan s2 saya hanya berorientasi mencari gelar bukan ilmunya. terlebih kemampuan bahasa asing saya kurang dari cukup..apakah saya mampu dan apa yang mesti saya lakukan agar tercapai harapan tersebut?

  2. lukito says:

    Iya mbak. Semua ortu selalu punya harapan yg baik bagi anak-anaknya. Good luck dng perjalanan intelektualnya, semoga suatu saat nanti anda bisa sampai pada tujuan anda… 🙂

    • Laode Absar says:

      Saya dulu cuma kuliah sabtu minggu disalah satu perguruan tinggi swasta, saat ini saya melanjutkan S2 di Universitas Indonesia dengan beasiswa, saya juga sebagai PNS. saya sangat berkeinginan sekali melanjutkan S3 keluar negeri,dan saat ini saya lagi mempersiapkan segalah sesuatunya, saya juga sudah menikah dan dikaruniai seorang putri, Alhamdulillah mereka mendukung semua, saat ini saya bukan dosen, tapi setelah S3 nanti saya berkeinginan untuk pindah menjadi dosen. semoga Tuhan selalu memberi kesehatan dan kekuatan untuk melalui tujuan dan cita-cita ini, saya percaya bahwa disetiap tujuan besar itu, disitu juga disediakan jalan oleh Tuhan untuk melewati/meraihnya

  3. Jaenal Arifin says:

    Saya lebih tertarik untuk melanjutkan sekolah S3 dengan melewati prosesnya, tetapi seringkali kebingungan mencari kampus yang tepat. Mungkin pak Lukito bisa memberikan gambaran/pencerahan kepada saya…? saat ini saya mahasiswa tingkat akhir (S2 teknik elektro ugm dengan konsentrasi SIE). Terima kasih banyak sebelumnya.

  4. lukito says:

    Studi S3 itu bersifat mandiri, mas. Proses (dan hasil) pada akhirnya sangat ditentukan oleh inisiatif sendiri. Kampus seperti apa yg cocok untuk itu? Tentu saja kampus yang kondusif, yang lingkungannya dapat membuat anda merasa nyaman dalam menjalani proses belajar.

    Lingkungan yang nyaman itu seperti apa? Ada perspektif subyektif maupun obyektif. Secara obyektif, kampus yang nyaman ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya: pembimbing, sarana belajar, atmosfer akademik, dan tatakelola akademik. Carilah kampus yang kondisi faktor-faktor di atas memenuhi harapan anda.

  5. Rusman Sinaga says:

    Terkadang kita berfikir bahwa apa yang kita raih sesungguhnya selain untuk masyarakat yang membutuhkan tentu adalah untuk keluarga dan penerus generasi dalam keturunan kita. Hampir semua orangtua mengharapkan anak-anaknya lebih hebat dari dirinya sendiri. nah kalau kita sudah memegang gelar akademik tertinggi yaitu Doktor bagaimana dengan anak-anak kita. Apakah mereka bisa lebih dari kita? Sementara untuk studi Doktor kita membutuhkan waktu yang sangat lama (3-4 tahun), selama itu pula kkomunikasi kita dengan anak-anak akan mengalami resistansi dan akan berdampak tidak terkontrolnya anak-anak yang notabene masih di bangku sekolah dan bangku kuliah. Pikirian kita pun akan terbagi dua, mikirin anak2 dan mikirin materi studi S3. Saya seorang dosen dan sudah diterima di salahsatu program doktor perguruan tinggi ternama di Indonesia, namun saya masih bermohon agar menunda studi untuk masuk di semester genap. artinya dalam waktu berkisar 5 bulan lagi ini saya harus memutuskan lanjut studi S3 atau tidak. terkadang saya berfikir apakah saya haus mengorbankan waktu 3-4 tahun pisah dari keluarga, sementara Studi Doktor yang akan saya tempuh belum tentu berpengaruh terhadap pekerjaan saya ke depan, Saat ini saya sudah Lektor Kepala IVc…..ini benar-benar dilema. Mohon diberikan masukan, trimaksih

    • Cahyo Triwibowo says:

      Saya pernah baca puisi yang berjudul
      Anak Anakmu (Kahlil Gibran)

      Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
      Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
      Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
      Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

      Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
      Karena mereka memiliki ikiran mereka sendiri

      Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka,
      Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

      Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
      Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

      Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

      Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh

      Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
      Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

      Kesimpulan saya karena tuntutan profesi dan kekinian maka lebih baik kalau bapak segera S3. Anak biarlah menjadi dirinya sendiri seperti Anto Hoed putra dari Prof Hoed. Itu pandangan saya sebagai orang muda dan baru lulus S2. Semoga pak Lukito bisa memberikan jawaban yang lebih bijak.

    • lukito says:

      Pak Rusman ysh,
      Saya tidak berani menyarankan Bapak utk segera menempuh studi S3 atau membatalkannya, karena keputusan seperti itu memerlukan pemikiran yang mendalam dan memperhitungkan banyak faktor yang saya tidak tahu.
      Yang bisa saya sarankan adalah Bapak memperhitungkan semua aspek yang sekiranya nanti akan berpengaruh, dan pada akhirnya mengambil keputusan. Semakin cepat keputusan itu diambil, semakin baik. Selanjutnya, sekali keputusan itu dibuat, melangkahlah dengan mantap, jangan menengok ke belakang lagi, apalagi menyesalinya. Apapun pilihan Bapak, yakinlah bahwa itu adalah yang terbaik. Mungkin Bapak akan mengalami problem atau kendala terkait dengan keputusan yang Bapak ambil, tapi yakinlah bahwa problem atau kendala itu adalah bagian dari cara Tuhan dalam memberikan yang terbaik untuk Bapak dan keluarga.

      Semoga sukses pak..

  6. sri rahayu says:

    Pak Lukito..
    Saya saat ini sudah diterima disalah satu perguruan tinggi ternama di Jawa tengah

    Anak-anak saya sudah saya sekolahkan di jawa tengah juga.
    Namun sekarang mereka merasa tidak betah di jawa.
    Minta pulang dan sekolah di sumatera.

    Dilema bagi saya..
    Apakah terus studi di jawa, anak-anak dibujuk untuk betah
    Atau kembali ke sumatera
    Dengan risiko tidak jadi kuliah S3?

    Oiya..anak saya msh kelas 1 SD dan TK nol kecil.

    Apakah saya harus menyerah,
    Demi anak2?

    Terimakasih

    • lukito says:

      Bu Sri Rahayu ysh,
      Kalau keputusan untuk studi S3 itu diambil dengan kemantapan hati, cobalah untuk bertahan, bu. Memang konflik kepentingan dengan keluarga itu salah satu persoalan yg sering muncul, terutama jika anggota keluarga ada masalah penyesuaian dengan lingkungan baru.
      Saran saya, cobalah untuk menyelesaikan masalah anak-anak. Setahu saya, anak-anak, terutama yang masih kecil, lebih mudah untuk diarahkan. Asal mereka dibuat merasa nyaman, rasanya mereka akan betah.

      Jangan menyerah bu, tetaplah semangat!

    • rotdok says:

      Kalau baru punya anak 2 dan kecil-kecil berarti umur ibu mungkin masih muda, jadi ya masih ada waktu untuk S3 nanti setelah putra-putrinya besar.

      • ndar says:

        kalau saya lebih cenderung menyarankan untuk menunda dulu s3 nya..mengingat anak-anak anda masih kecil dalam artian butuh perhatian dan pendampingan lebih dari sang orang tua..saya yakin jika anak-anak udah pada besar saya yakin intensitas dengan ortunya makin kurang..mereka lebih nyaman bersama teman-teman mereka…makasih

  7. adrianus says:

    Menariknya memiliki gelar doktor, mungkin saja, adalah di pintu ruang kerja kita dicantumkan papan nama kita yg di awali dg “Dr”. Saat membaca email dari ilmuwan negera lain, kita disapanya dg “Dr”. Saat melihat biodata anak disekolah, dalam kolom pendidikan orang tua disikan lulus S3 (gelar: Dr).

    Tapi yg sesungguhnya paling menarik bagi saya adalah selama pendidikan S3. Kita ditantang mengerahkan segenap kemampuan intelektual dan kreativitas yg kita miliki untuk memberikan sumbangan pemikiran di bidang yg kita geluti.

  8. Menariknya studi S3 dan menjadi Doktor? Alasannya tentu beragam, bergantung pada latar belakang dan kondisi masing-masing. Saya mengikuti S3 dan menjadi Doktor tidak terlepas dari latar belakang profesi sebagai dosen dan keyakinan agama. Menuntut ilmu adalah ibadah yang bernilai sangat tinggi, dan dengan memiliki ilmu yang benar-benar mumpuni di bidangnya, seorang dosen akan dapat menjadi sumber ilmu dan teladan yang tidak habis-habisnya bagi mahasiswanya. Di akhir usia seorang pendidik yang berpendidikan S3, diharapkan semua kewajiban dapat terbayar dengan tunai.

  9. Hasbi says:

    saran saya,..ikuti dulu nasehat orang tua, pastikan posisi kerja anda dulu sebagai bentuk pemenuhan tanggung jawab terhadap istri. Jika anda telah mendapat kerja ‘dosen’, saya yakin anda bisa memilih s3 anda, tidak hanya jepang.

  10. ziaul khairi says:

    Target saya, ingin mendapatkan doktor pada usia 26 tahun pada bidang Bahasa Arab dan Syariah. Saya begitu termotivasi sekali dan sangat semangat untuk menjadi doktor Muda, terutama di daerah saya.

  11. Den bagusD.yanto says:

    Mnrt pak lukito,bgmn jika seorang istri&ibu dg anak balita berusia 6bulan mengejar titel demi karir dosennya dan demi pengakuan masyarakat&tmn bhwa ia bisa meraih gelar doktor sblm usia 30thn,ini tjd pd istriku yg dg rela meninggalkan putra kami dengan susu formula&pembantu demi ambisinya.Istriku mmg cerdas,ia lulusan master double degree perancis,ia mengambil s3 saat hamil dan resikonya krn tll byk aktivitas mengajar,kursus,kuliah,anak kami lahir terlalu dini.Namun ia tetap pd pendiriannya utk ljt s3,saran saya utk pending s3 sampai usia anak 2thn ditolak keras.Entah apa yg dicarinya?materi,karir,pengakuan atau apa saya pun tak tahu,ia benar2 tdk merasa bersalah tlh mengorbankan anak kami demi ambisinya.Ia mampu mendidik mahasiswanya,tapi ia tak mampu merawat,menyusui,mendidik anak kami.Mgkn diluar ia hebat krn lulusan DD LN tapi dirumah nilainya NOL BESAR!Aku tdk iri dg keberhasilan istri&aku mendukungnya,hanya saja aku ingin istriku lbh cerdas dan bijaksana mengambil keputusan terpenting.

    • lukito says:

      Mohon maaf pak, saya tidak berani memberi nasihat untuk masalah yang bapak hadapi. Satu-satunya hal yang bisa saya sampaikan adalah teruslah berusaha untuk mengkomunikasikan dan mendiskusikannya dengan istri secara jujur dan terbuka. Semoga bapak dan istri diberikan petunjuk-Nya dalam menyelesaikan masalah tersebut..

      • Risma says:

        Seharusnya seorang perempuan sekolah tinggi agar bisa mendidik anak2nya….
        Dan saya mau jadi salah satunya 😁😁😁

  12. lukito says:

    Saya setuju dengan komentar pak Hasbi di bawah ini. Sekarang ini relatif mudah untuk mendapatkan beasiswa, apalagi dengan profesi dosen.

  13. Fia Rusmiyanti says:

    Pak lukito, saya mau tanya. Bagaimana jika seorang anak bersi keras dalam usahanya untuk mengejar gelar doktor? Sedangkan dari segi finansial tidak memungkinkan. Terlebih ia baru anak pertama yang orang tuanya masih memiliki banyak tanggungan untuk adik-adiknya. Terima kasih 🙂

    • lukito says:

      Banyak beasiswa yang tersedia, janganlah ketidakmampuan secara finansial menjadi halangan utk bersekolah S3. Pada kenyataannya, hampir semua mahasiswa S3 adalah penerima beasiswa. Jarang ada yg sekolah dengan biaya sendiri, karena memang tidak murah. Saran saya, jangan pupus harapan utk bersekolah S3, rajin-rajinlah mencari beasiswa.

  14. Taufan nugroho says:

    Ass ww..saya sekarang baru mengikuti s3 disalah satu perguruan tinggi negeri, saya seorg dosen swasta,tp kampus saya tidak bisa memberikan beasiswa..saya minta pendapat bagaimana mencari beasiswa lain dan alamatnya.tks pak

  15. Rajwa says:

    Mohon petunjuknya pak, saya seorang PNS dan sudah memiliki gelar S2, kuliah saya dari S1 sampai S2 hasil dari beasiswa dan sekarang ada kesempatan di depan saya untuk mendapatkan beasiswa S3. Cumaaaaaa saya ragu2, apa benar mau ambil S3? pikiran yang bergejolak antara lain
    1. Buat apa?
    2.Mampukah saya?
    apalagi klo beasiswa ada target2 tertentu yang harus dikerjakan antara lain beasiswa hanya untuk 3 th dsb, gimana klo saya gk bisa mencapai target wkatu tersebut?dll..dll…dll
    Atasan mendukung, suami mendukung, malah menyuruh saya ambil S3 di LN saja, tapi saya yg gk sanggup berpisah dg anak2 klo mau ke LN 😀 … Bagimana caranya supaya saya tidak ragu lagi dan bisa ambil keputusan untuk kuliah S3 atau tidak sama sekali?

  16. rine says:

    hmm,.. maaf sebelumnya,.. saya mau bertanya, sebenarnya peluang bekerja di Indonesia lebih besar mana sih S2 dibanding S3? soalnya saya pribadi bingung, memilih melanjutkan S3 atau bekerja setelah lulus S2?
    Alhamdulillah saya mendapatkan tawaran untuk lanjut S3 gratis dan tanpa ikatan kontrak. Rata-rata teman-teman saya disini melanjutkan S2 dan S3 disini karena sudah ada kontrak dengan Indonesia (seperti DIKTI), jadi mereka sudah dalam status diterima bekerja atau terikat kontrak. Sedangkan saya pribadi merasa masih kurang pengalaman karena belum pernah merasakan dunia kerja. Terimakasih sebelumnya untuk admin yang baik hati,.. 🙂

  17. indra gockiel says:

    apapun gelar nya,yang terpenting adalah mencari ilmu nya karna seorang muslim itu menuntut ilmu itu wajib hukumnya!!
    masalah pekerjaan,status sosial, itu bukan hak kita,,!!

  18. Aufar says:

    pak lukito,saya mw tanya mengenai boleh tidaknya mengikuti tes cpns.Saya bekerja di univ.A dan mengajukan beasiswa S3 ke dikti dengan mencantumkan instansi perguruan tinggi asal univ.A utk lanjut studi S3 ke Univ.B. Tahun ini saya mengikuti tes cpns dosen di Univ.bangka belitung,alhamdulillah lolos TKD. Apakah saya menyalahi aturan pak?

  19. samuel says:

    Selamat pagi pak… Thx atas bacaab di blog ini… Bnr2 bagus dan inspiratif bg sy yg sempet khilngn cita2 mau lnjut kuliah lg…
    Pak ada yg mau saya tnykn mohon bntu…
    Kmrn sy lhat di syarat doktor s3 di ugm apakah betul syarat hrs cumlaude s1nya? Sbb di s1 sy di bogor hny 3.3an… Ttpi sy dserpenghrgaan sbg lulusan trbaik utk wisuda pertama dijurusan sy.. Apakh sy lmpirkan? Sbb bila sy ikut tkutnya ditolak pihak ugm krn tdk cumluade…
    Utk krya ilmiah hrs dipublikasikn di media ya pak
    Thx atas perhatiannya

  20. tri h says:

    Selamat siang Pak,
    Saya bekerja di perusahaan asing yang memiliki lapangan operasinya di Indonesia. Pertama kali saya masuk ke perusahaan tersebut saya bergelar Diploma3 (Amd), berselang 2 tahun kerja saya bisa menyelesaikan S1 melalui kelas karyawan di Universitas di Jakarta, setelah sekitar 4 tahun kemudian saya bisa mendapatkan gelar S2, cuman perusahaan saya berpedoman pada ijasah pertama saya masuk (D3), jadi ijasah S1 dan S2 saya tidak diakui (berguna) di perusahaan. Terkadang saya berpikir, gimana supaya ijasah tersebut berguna. Mungkin ada yang bisa kasih masukan?
    Thanks

  21. yanti says:

    Gelar doktor, hnyalh gelar…semua tergntung niatx, jdi tmptknlh pd porsix, seorng wNita tgas utamx mngurus suami dn ank2x…jika dia mmpu mnjlnkn kewajibnx..mka sangtlh luar biasa mmpu mraih gelr doktr tmpa mngbaikn tgas pokokx…klo kita mati, tdk akn ditnya ijasah d3,s1.s2.s3 kita,,,tpi hy pljrn sd klas 1…siapa tuhanmu…dst…jdi dunia tmptknlh pda temptx…jika anda mmpu mraih glr doktor…mk tg jwB jg smkin berat…,jgn sampai hal prestise, kedudukn, gelar mngmbil at ditukr dg hal yg pling brhrga dlm hjdup kita yaitu keluarga,,,

  22. yanti says:

    Saya juga sedang lnjut s3, tpi syratx suami ikut, kuliah s3, ank2 semua ikut….tdk pergi srndiri meningalkn keluarga,,,sehingga walau kuliah…ttp bersama ank2 dn suami tercinta….tdk ada yg dikorbnkn..jdi srn sy bgi seorng ibu jika lnjt s3…jgn smpai mngorbnkn keluarga….

  23. bkaso says:

    pengen gelar doktor tp belum bisa untuk sekarang,,,moga aja suatu saat tuhan mengabulkan,

  24. tajudinthaha says:

    Pak lukito ysh,
    Sebenarnya permasalahan pembaca tidak banyak perbedaan dengan sy, dalam hal ini posisi sy sedang kuliah S3 di indonesia ,namun sampai saat ini saya masih bertanya tanya apakah S3 yg nanti sy peroleh bs manfaat dlm jabatan sy atau karier sy sebagai PNS ,mohon masukan nya pa.

  25. bejo says:

    Halo. Saya punya kakak. S1 di indo. S2 di korea, bahkan dia s2 ngambil 2 gelar. Tehnik industri dan tehnik mesin. S3 di ingris. Btw kakak saya cewe umur 32 tahun dan blm nikah sampai skrg keasikan blajar atau emang karna ga minat nikah. Stelah plg ke indo doi malah nganggur. Daftar sana sini ga keterima. Skali ada yg nawarin jd dosen diperguruan swasta itupun ga tetap dan gaji kecil. Doi gengsi kayaknya alhasil ga diambil. Banyak yg nerima kerja tp tetap aja kantoran dgn gaji kecil ga sesuai harapan dia. Artinya kecil itu yah ga perlu s3 buat gaji sgitu. S1 juga bisa. Awalnya mama papa selalu bangga klo cerita ke tetangga dan sanak saudara ktika ditanya anaknya skrg dmn? Bahkan saya yg selalu di cerca org tua karna saya kuliah 7 tahun tamatin s1 dgn penuh perjuangan dan nyontek sana sini. Alhamdulilah skrg aku stelah tamat bisnis dan bisa ngasih ortu tiap bulan termasuk ngasih “jajan” ke kakak aku yg s3 itu yg sudah ngangur 1 tahun lamanya dan spertinya skrg dia mulai stress. Smoga dia sgera dpt kerja dan teman teman disini juga ga bakal susah dpt kerjanya. Krna mnurut pngalaman s3 spertinya malah susah dpt kerja. Kalau mau skalian aja menetap diluar negri karna s3 yg dipakai jd dosen perguruan tinggi elit sperti UI UGM ITB dll lbih memilih s3 yg alumni situ atau emang udah senior ketimbang anak baru s3 yg masih muda dan blm ada pngalaman kerja mau daftar ke perguruan tinggi trkenal. Pasti ditolak kayak kakak saya. Emang rejeki ga bisa ditebak. Mau s3 mau tamatan SD intinya harus berusaha mncari rejeki halal dan “kreatif” kalau ga mau tergilas di dunia nyata. Smoga pengalaman saya bermanfaat.

    • pemantao says:

      kalo s3 nya beneran pasti ga begok kayak gitu. S3 kok nyari kerja

    • pemantao says:

      Kayaknya agak susah kalo s3 jadi pasaran seperti s1 dan s2 sekarang. Walaupun pinter banget di S1 dan S2 sebelumnya, belum tentu bisa survive di S3.

    • Iwan says:

      Lulusan S3 dari Inggris laku tuh kerja di Malaysia dan Singapore, nggak coba cari kerja di sana aja, masih negeri tetangga dekat ini, pulang gampang….

      • y khaidir says:

        betul, terutama untuk jadi dosen di univ di malaysia. yang s3 masih banyak diterima, rata2 gajinya sekitar 20jt an. jk nanti sdh profesor penghasilan sktr 40 jt-an

  26. menempuh gelar doktor itu benar-benar perjuangan yang berat namun kebanggan tersendiri untuk penyandangnya

  27. kta dbs says:

    menurut saya gelar doktor itu merupakan suatu kehormatan atas apa yang diperjuangkan dalam dunia pendidikan

  28. Dr. wanaphun says:

    Sebelum menempuh pendidikan S3 harus dipersiapkan semuanya, baik finansial, mental dan keberanian action. Pengalaman saya sebelum mendapat gelar doktor rasanya pingin sekali, merasakan bagaimana seorang doktor.Setelh mendapat gelar tersebut ternyata biasa dan biasa saja. Tinggal riset, pengabdian kepada masyrakat dan memilah milih honor tertinggi hhh. Tapi memang Publish Internasional, dituntut dan itu agak sulit dan memakan waktu. jadi setelah gelar ini hrs Kerja cerdas, sabar,pantang menyerah untuk mendapat gelar yang lebih tinggi lagi GUBES

  29. dona pramana pura says:

    Artikelnya menarik Pak Lukito, ada hal yang mau saya tanyakan Pak, masa studi untuk mendapatkan gelar S3 biasanya tidak sebentar ya Pak, saya lihat kebanyakan anak dan istri jadi ikut kita selama masa studi, saya ingin tau pengalaman bapak dengan beasiswa yang diterima apakah cukup Pak untuk biaya hidup selama menempuh studi S3.

    • lukito says:

      Rejeki bisa dicari mas. Selama di LN, kita atau istri bisa nyambi bekerja untuk menambah penghasilan. Di Jepang, para mahasiswa Cina belajar S3 nyaris tanpa modal. Satu apartemen yg harusnya diisi 2 orang bisa dipakai sampai 4-5 orang, dan mereka bisa survive dengan kehidupan seperti itu.

      Tapi emang kita tidak boleh berharap bisa kaya karena beasiswa atau kerja tambahan semacam itu… 😀

  30. arrif says:

    Maf Pak Lukito, mau tanya, saya baru 26 thn dn lulus master di sebuah universtas di jogja 3 bulan lalu, saya ingin ambil beasiswa luar negeri, saya bingung mau ambil doktoral atau mau ambil lagi masteral, saya ingin ke doktoral tp jujur saja penglaman riset saya masih minim, saya takut akan menemui kendala besar kalo saya tetap maju dn berakibat gagal, sistem akademik luar negeri sangat ketat apalgi tingkat doktoral. Apa saya ambil masteral lg untuk pendlaman bidang saya atau lanjut ???/kalo saya ambil master lagi apakah saya hrus menutup rapat2 klo sy sudah master,?

  31. arrif says:

    Maf Pak Lukito, mau tanya, saya baru 26 thn dn lulus master di sebuah universtas di jogja 3 bulan lalu, saya ingin ambil beasiswa luar negeri, saya bingung mau ambil doktoral atau mau ambil lagi masteral, saya ingin ke doktoral tp jujur saja penglaman riset saya masih minim, saya takut akan menemui kendala besar kalo saya tetap maju dn berakibat gagal, sistem akademik luar negeri sangat ketat apalgi tingkat doktoral. Apa saya ambil masteral lg untuk pendlaman bidang saya atau lanjut ???/kalo saya ambil master lagi apakah saya hrus menutup rapat2 klo sy sudah master,?

    • lukito says:

      Yang penting kemauan untuk belajar mas. Saya dulu juga memulai sekolah S3 degan pengalaman riset yg seadanya. Jangan takut untuk menghadapi tantangan…

  32. Nur says:

    [ask] [suggestion] [solution] Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak yang ingin kuliah dan bukan hanya sekedar mencari gelar, tapi tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi? entah karena dana atau syarat-syarat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi!?

  33. mouleedhiya says:

    Salam Pak Lukito,
    Salam kenal, mohon izin share tulisan ini di blog saya ya pak, untuk menyemangati diri saya dan mahasiswa saya.
    terimakasih pak Lukito

  34. Rawe-rawe rantas says:

    Saya ambil S3 di salahsatu PTN ternama. Saya bukan akademisi, disiplin ilmu yg saya geluti pun jauh dari profesi saya.. Saya sudah berkeluarga. Jarak tempuh ke kampus 2-3 jam. Teman sekelas semua berlatarbelakang dosen, tapi saya mampu meninggalkan gerbong alias lulus lebih cepat, cum laude lagi. Setelah saya sadari, ternyata BUKAN karena saya pintar, tapi karena saya punya strategi, yaitu berusaha mghindari prokrastinasi (terutama terkait tugas-tugas mata kuliah), dan mengerjakan disertasi minimal 2 jam setiap hari. Nah, bagi anda yg penasaran dan bermimpi raih doktor, silakan pungut strategi saya. Saya percaya, ANDA PASTI BISA !!!

  35. herwin sutrisno says:

    Ijin share opininya.tks

  36. baizul zaman says:

    kupasan tulisanx menyentuh sekali pak.sangat menguras emosi ketika membaca bagian yg membahas tentang bgm org2 yg mengampu s3 tanpa proses yg berdarah2 dan hanya ingin mndapatkanx secara instan. kemudian sangat menarik saat membaca bagian akhir tulisan ini tentang bgm posisi s3 dkmudian hari. ini akan mnjadi tantangan tersendiri bg mereka yg akanbmlnjutkan studi s3,termasuk sy sendiri.

  37. vasco delano says:

    Terima kasih wak lukito….

  38. Nurul Hidayati says:

    Assalamu’alaikum Wr Wb
    Saya sangat respek dengan tulisan Pak Lukito yang sangat menyentuh hati ini…memang banyak orang tua yang berharap putra/putrinya bisa meraih pendidikan yang lebih baik dari dirinya,termasuk orang tua saya selalu menasehati putra/putrinya: ” GOLEK ILMU KUWI ORA BAKAL MUSPRO ” yang artinya : Menuntut ilmu itu tidak akan sia-sia, oleh karena itu semua anak2nya melaksanakan nasehat itu, Namun ada kendala yang saya hadapi dalam hal itu, yaitu SURAT IZIN BELAJAR dari pihak BKD susah saya dapatkan,pdhl sudah saya jelaskan di Perguruan tinggi/Universitas yang dekat kota saya tidak ada jurusan yang saya harapkan,ingin saya mengambil jurusan yang berkelanjutan dari mulai menempuh D.3; S.1; S.2 dan S.3 juga sama, namun tetap hal itu tidak pernah terealisasi,untungnya Kep.sekolah toleransi, diberikannya saya waktu untuk 2 hari untuk meraih harapan saya, namun untuk meraih S.3 nya pihak sekolah tidak bisa toleransi lagi,kebetulan Kep.sekolahnya ganti bukan yang dulu itu…apa yang harus saya lakukan dengan problim seperti ini Pak Lukito, mohon masukan dan supportnya….

  39. azizah amara says:

    Pak Lukito,,,,saya pengen ambil S3…tapi kok ragu2 ya…karena kemaren ketika ambil S2 perjuangan saya terasa berat karna saya nyambi kerja….sampe sakit2an…sekarang pengen ambil S3 jadi nggak pede…kuat nggak yaaa….

  40. Ikhwan says:

    Tulisnya sangat menyentuh pak. (y)

  41. andi roy says:

    Terimah kasi Pak Lukito..
    Aku jadi bersemangat.,
    semangatku tak akan padam, jika aku punya kesempatan lanjut S3 aku tak akan melepaskannya, akan aku jalani prosesnya, Saat ini aku belum punya pekerjaan tapi aku punya Visi, aku percaya dengan ilmu yang mumpuni kita tak akan pernah rugi,. Pendidikan bukan hanya menuntut ilmu tetapi perubahan tata laku, dan memperbanyak jaringan..

  42. Boni says:

    Sharing yang menarik pak Lukito…saya baru saja lulus dari MMUGM, dan saya sudah diterima S3 di Taiwan. Dosen saya memberi peluang untuk menjadi dosen UGM setelah lulus S3. Apakah setelah menjadi dosen banyak peluang untuk penerapan ilmu kita selain mengajar dan riset seperti menjadi konsultan, politikus, bisnis, dan lainnya? Mohon sharingnya, terima kasih.

  43. Muhammad Resky says:

    gelar doktor sekarang jadi trend apalagi untuk PNS terutama Pemda karena persyaratan esselon 3 harus punya S3, maka berbondong2lah PNS kuliah S3. Sebenarnya S3 itu lebih ke ilmu bukan jabatan. S1 itukan tingkatnya baru pemahaman, S2 pendalaman jadi S3 itu sudah tingkat pengembangan kalau ilmunya linier. tapi kalau ilmunya gado2 spt S1nya Spd, biasanya S2 itu MM dan S3nya nggak jelas. banyak doktor2 itu ilmunya dibawa mati karena nggak bisa nulis atau bikin buku. PNS juga kuliah S3 nantinya kalau nggak laku lagi atau sudah pensiun kan bisa jadi dosen. kalau begini maka S3 kita banyak yang nggak bermutu atau S3 jabatan bukan lagi Ilmu oriented.

  44. Muhammad Resky says:

    Contohnya teman saya Alm DR yayan Sopiyan SH, MSi baru setahun menyandang gelar Doktor meninggal karena tujuan doktorya untuk mengejar jabatan bukan ilmu. Memang jabatan terakhir alm ialah staf ahli Walikota tangerang tapi ya itu hanya setahun dan usia beliau baru 46 tahun. Di Tangerang terutama banyak PNSnya kuliah S3 malah guru2 pun kuliah S2 dan S3 dengan tujuan nanti kalau pensiun jadi dosen. Tapi doktor2 ini tidak produktif karena nggak ada ilmu yang dikembangkannya karena tujuan utamanya mengejar jabatan terutama yang double job yaitu paginya PNS di pemda atau guru negeri dan sorenya menjabat pimpinan di PTS.

  45. Roy says:

    Harus diakui, S3 yg benar (bukan abal-abal dan bukan dari Universitas/Institut Abal-abal) mempunyai visi, daya analisis, wawasan yang lebih tajam dari S2 dan S1. Dan S3 yg bisa membaca dan menulis dalam bahasa Inggeris lebih berkemungkinan dapat menulis dalam jurnal International daripada yang tidak bisa bhs Inggeris. Dulu ketika masih S1 begitu luarbiasanya kita pikir yg S2 atau S3. Begitu juga ketika sudah S2 memandang S3 begitu mulia. Sekarang kelemahan S3 Indonesia apalagi produk abal-abal adalah tidak sanggup menulis dalam jurnal international, karena pembimbingnya pun tidak mempunyai jurnal international. Jumlah S3 di Indonesia sekarang sudah inflasi (terutama yg abal-abal).

  46. Tugiman says:

    assalamu`alaikum
    pada awalnya saya tidak kepingin dengan kuliah smk atau sma saja tidak kepikiran, dikarenakan addanya tantangan dari masyarakat yang menjustis, “kamu patutnya bekerja sebagai pengambil rosokan alias pemulung” dari situlah akhirnya saya mempunyai semangat untuk belajar, akhirnya saya ijin sama orang tua untuk melanjutkan meneruskan di smk, dengan izin allah saya diterima di smk ternama di sragen tepatnya di smk sakti gemolong, sehabis smk bekerja di alimantan kemudian pulang dan akhirnya saya melanjutkan kuliah di stain salatiga sekarang iain salatiga, dengan pembelajaran tersebut saya berfikir bahwa dengan belajar di intitusi belum memuaskan untuk diri saya, maka saya di beri keempatan dari allah untuk melanjutkan di s-2 stain surakarta/iain surakarta, dari pembelajaran itu saya merasa kurang untuk belajar dan peningkatan keilmuan maka saya melanjutkan s-3 di umy, alhamdulillah sekarang sudah tahap akhir mendapat kandidat doktor dan penyelesaian desertasi hampir selesai, disitulah semangat untuk belajar akan menghasilkan kesuksesan. dengan adanya justis dari masyarakat tadi saya gunakan untuk bersemangat mengubah pandangan yang miring menjadi pandangan yang lurus dan positif maklum saya berangkat dari keluarga yang tidak mampu makanya ejekan dan cemoohan bertubi-tubi bagi saya dan keluarga, dengan harapan ilmu saya dapat bermanfaat bagi masyarakat, agama dan nusa bangsa. mohon doanya sekarang saya merintis smk geratis untuk belajar di tempat saya, tepatnya di sendang rt 02/2 karanggede, boyolali jawa tengah. untuk pemuda indonesia bersemangatlah belajar untuk megapai cita-cita dan belajar setinggi mungkin

  47. imam says:

    Dear pak lukito.
    Mhn arahan pendapat.sy pak imam.tinggal dilahat. Sy kerja ditambang dgn pendapat cukup, sejak 2011,menikah dan 2 anak.laki2 umur 8 th kelas 2 dan umur 2,2 th blm sekolah. Sy ada keinginan mau lanjutkan S3 dibengkulu sumsel…Malam sy ngajar dosen dilahat.
    Utk melanjutkan S3 mungkin sy hrs jual tanah dan minta bantuan perusahaan?

    tentu S3 saya harus fokus? kerja diperusahaan berhenti/keluar? sy binggung nafkah istri anak perbula.

    Mhn nasehat pendapat yg terbaik???

    trims kasih sebelumnya

    Darsih

  48. Anonimouses says:

    ge opo doktor doktoran barang.

  49. Yuterlin Zalukhu says:

    Senang membaca tulisan Bapak, saya mohon advice. Rencana saya kalau tidak ada halangan mau melanjutkan program doktor tahun ini di Feb UGM, S1 saya jurusan Ilmu Hub.Internasional, S2 jurusan Magister Manajemen,S-3 rencana saya ilmu manajemen konsentrasi pemasaran. Sementara impian saya suatu hari kelak jadi Profesor. Namun, saya dengar jadi profesor sekarang harus ilmu yg linier. Terimakasih.

  50. Bianca M S says:

    Pagi pak.. terima kasih karena tulisannya ini sangat menginspirasi..

    saya baru saja menyelesaikan Studi S2 saya di bidan Bisnis Farmasi. S1 saya juga ambil Farmasi.

    Saya ada keinginan untuk mengambil studi S3.
    saat ini mau mencari beasiswa..

    namun yang menjadi pemikiran saya adalah nantinya akan ada banyak biaya di luar biaya akademik..

    apakah benar spt itu ya Pak??

    karena yg saya dengar spt itu.. tapi saya percaya asal ada niat pasti ada jalan..

    semoga saya bisa segera mewujudkan mimpi saya tsb.. 🙂

  51. Taufik says:

    Kenapa nggak ada yg bicara biaya yaaa,,,? bukankah biaya menempuh S3 itu besar sekali. Walaupun cerdas kalau tidak punya biaya kan berat untuk ngambil S3 ? Ini dialami istri saya yg seorang dosen di perguruan tinggi swasta. Setelah 2 tahun kuliah beasiswa distop sementara uang tabungan telah habis. Terakhir yg cukup besar adalah biaya ikut sandwhich di luar negeri yg katanya wajib diikuti. Kata istri saya saat ini masih butuh sekitar 100 juta utk proses penelitian dan ujian nantinya. Saat ini saya dan istri sedang dilema, ingin pinjam uang di bank pakai sertifikat rumah tapi nanti disita bank. Nggak nerusin udah banyak biaya yg terbuang. Apa benar beasiswa harus dikembalkan ke negara jika studi tidak lanjut pak ? Dan apa benar walaupun sudah lulus setifikasi dosen gaji setifikasinya tidak bisa diterima jika studi S3 nya tidak selesai ? mohon penceahannya pak.

  52. Elly Ramlan says:

    Tulisan Bpk sangat menginspirasi, …Izin share ya pak , terima kasih.

  53. Edi Susilo says:

    Sangat menginspirasi, mudah-mudahan besok bisa punya gelar doktor

  54. lukman alu says:

    Luar Biasa….
    ijin share yah pak

  55. KAMSON says:

    SAYA KAMSON. SAYA PERNAH LULUS DORTOR ILMU MANAJEMEN PENDIDIKAN, SAYA KULIAH HANYA INGIN MEMBUKTIKAN BAHWA KULIAH s3 DAPAT DIIKUTIOLEH SIAPA SAJA, SAYA MENYELESIKAN KULIAH S3 DALAM WAKTU 3 TAHUN 3 BULAN 18 HARI. SAYA DINYATAKAN LULUS CUM LAODE. SAYA LULUS BULAN MARET 2016. SETELAH LULUS KOK BIASA SAJA. SAYA SEKARANG USIA 60 TAHUN. SAYA PUNYA GELAR S1 DUA YITU SARJANA PENDIDIKAN JURUSAN PPKn DAN SARJANA HUKUM, S2 SAYA JUGA DUA, MAGISTER MANAJEMEN DAN MAGISTER MANAJEMEN PENDIDIKAN, S3 SAYA JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN. TERNYATA KULIAH ITU ASYIK DAN MENYENANGKAN.

  56. Agus kuncoro says:

    Saya masih 21 tahun udah tamat S3 di BSI Amikom karena itu kampusnya obama, S1 di Princeton dan S2 di Havard, Tawaran oleh rektor MIT sama Stanford saya tolak, saya bakar undangannya, saya injek2 taman kampusnya, karena saya lagi pengen fokus menganggur. Semua studi saya selesaikan dengan waktu tercepat S1 3.5 tahun, S2 1 tahun, S3 18 bulan. Begitu cepatnya sampai teman-teman saya sudah punya cucu.

    Kuliah itu gak sepenuhnya menyenangkan, setiap ada pengumuman nilai saya selalu kesal dan berkata “Kok dapat A terus sih!!! gue bego banget!” mendengar saya berkata itu teman-teman mulai menjauhi saya. Bahkan dosen juga menyerah jika dapat pertanyaan dari saya. Saya heran sama diri saya sendiri.. Kok bisa ya dapet A padahal gak pernah masuk kelas, padahal saya bukan mahasiswa universitas tersebut. entahlah…

    Selama kuliah, kegiatan yang saya lakukan hanyalah duduk ditaman sendirian, bermain gitar di kantin, kadang bangunin janitor yang sedang tidur siang, mengganggu mahasiswi cantik yang sedang skripsi sama dosen genitnya.

    Kata ibu saya, saya punya disabilitas mental. Saya tidak paham dengan ibu saya. Padahal kan saya pintar, pandai bergaul dan membuat lelucon.

    Tertawa atau marah, kesal yang tertahan? itu pilihan anda, karena spektrum kita tidaklah sama

    Bukan saya yang memilih menjadi Doktor tp Doktor yang memilih saya!! thats my job little fellas..

    • Muhammad Resky says:

      pak Agus Kuncoro anda seharusnya bersyukur karena andalah orang2 yang beruntung diberikan Allah SWT otak yang encer sehingga kuliah di unibersitas yang terkenal di AS harusnya anda harus mengembangkan ilmu yang anda dapatkan jangan ilmu dibawa mati karena sekarang ini banyak S2 dan S3 hanya puas dengan gelarnya tapi tidak bermanfaat bagi orang lain dan kalau mati ilmunya dibawa mati dan harusnya bapak nulis buku agar ilmu bapak bermanfaat

  57. Nuha Syarif Daulay says:

    Pak Lukito saya mau bertanya…
    begini pak saya ini seorang pns di pemda. saat ini masih bergelar s2. saya ingin sekali kuliah s3. karena setelah mendapat gelar doktor saya ingin nyambi ngajar di pts, karena saya hobby mrmbaca dan mengajar. pertanyaan saya apakah pns non akademik yg sudah bergelar doktor yg masih aktif bisa nyambi mengajar di pts ?

  58. Keren ih opininya, menarik banyak orang untuk kasih tanggapan 😀

  59. asikin says:

    Saya Asikin. smua apa yg tmen2 katakan trutama bagi yg sdh berhasil mraih gelar s3 saya ucapkan selamat. tpi lain lagi dgn saya yg brtugas di daerah terpencil. sdh 4 tahun memohon bantuan atau info ingin ikut s3. tpi yg didapat begitu sulitnya langkah2 birokrasi di Indonesia. kfang bikin frustasi. pdhal saya ingin sekali memajukan daerah saya utk Indonesia Raya ini.

  60. Muhammad Resky says:

    buat teman2 sekarang ini bukan gelar doktor yang penting tapi bagaimana kita bermanfaat bagi orang lain di AS dan Eropa gelar S3 baru diakui kalau sudah menulis paling kurang 2 buku atau jurnal. Di Indonesia dosen2 saya yang hanya S1 tapi cukup dikenal seperti pak Arbi Sanit, Zulfikar Ghazali karena banyak tulisan dan buku karangannya. sedangkan di PTS2 terutama di tangerang banyak S3 dan mungkin gurubesar yang nggak ada buku karangannya dan mereka hanya ingin jabatan di PTS dan gelarnya untuk gagah2an seperti waktu lulus S3 dibuatkan spanduk selamat. Mereka itu menurut saya walaupubn punya S3 tapi tidak berkualitas

  61. samsul hakim says:

    jadi pengen s2 dan s3 …tp sayang.a gk ada biaya
    harapanpun terputus..
    cari beasiswa tapi gak ada yg nerima…

  62. Mengingat semakin banyaknya alumnus S-3, maka sudah saatnya adanya program S-4 mereka.

    Jadi di antara mereka dikompetisikan kembali.

  63. rozi says:

    menarik ulasan dari bapak/ibu/mas/dikolom komentar, saya juga pengen kuliah S3, tapi manfaatnya apa ya, saya seorang guru smk, yang sudah S2. Cari beasiswa yang ndak ada yang menerimanya. Menurut pak lukito gimana. Pertanyaan tersebut pernah saya tanyakan ke prof pengajar saya, tapi beliaunya, bingung untuk menjawabnya. Terim kasih

  64. Nano Suparno says:

    Selamat pagi pak LEN, saya juga “sedang” berkeinginan keluiah S3 untuk melengkapi ilmu yang ada pada saya. Tapi rasanya masih mempertimbangkan biaya, karena anak juga sedang menrampungkan S2 dan S1 nya. Mohon Bapak bisa merincikan biaya yang keluar selama kuliah S3, agar saya dapat mempertimbangkan kemampuan biayanya. Terima kasih.

  65. Angelawati says:

    Selamat pagi pak, umur saya 32 thn, dos3n di sebuah universitas negeri, saya pingin lanjut doktoral ilmu ekonomi s3 UGM, saya masih single.kesempatan utk beasiswa dr kampus saya mengajar terbuka lebar, krn utk jurusan ilmu ekonomi blm ada dosen yg lulusan s2 dan s3 ilmu ekonomi..jurusan ini baru dibuka thn kmrn. Saya lulusan s1 atmajaya dan s2 MEP UgM.. saya mau ambil jurusan yang linear…Yang saya mau tanyakan, 1. Apakah saya ambil kesempatan kuliah lg, mengingat saya msh single, ato menikah dulu baru mikirin kuliah? 2.apa yang harus saya persiapkan terlebih dahulu sebelum mendaftar? Apakah mulai menjadi dosen pengampu disertasi?makasih pak

    • wiryo says:

      Kalo sy boleh ngasih saran mending Nikah aja dulu Mbak, biar tenang. Toh batasan beasiswa utk S3 Dosen masih panjang mb 42Tahun (utk umum) 47 Tahun (PNS Dosen).

  66. Angelawati says:

    Ralat : mencari dosen pembimbing disertasi..

  67. Bowo says:

    Menurut saya nanti lama kelamaan s3 sudah populer menjadi hal yang biasa seperti sma untuk beberapa tahun kedepan berkembangnya teknologi SDM semakin kecil hampir seperti Robot. Dan itu kembali lagi dengan perekonomian

  68. praaboeo says:

    mungkin

  69. Faturrakhman says:

    Saya mau tanya keuntungan, setelah dari lulusan S2 atau S3? karena saya ingin sekali kuliah S2 tapi saya terkendala dengan tanggungan istri dan biaya hutang rumah. dan biaya2 tersebut hanya saya dapatkan dari pekerjaan saya saja. Dan saya khawatirkan ketika saya resign dari pekerjaan saya dan lanjut kuliah S2, saya tidak bisa membiayai itu semua dan juga bertemu dengan keluarga2 saya. Mohon pencerahannya. terimakasih.

  70. Faridah Abas says:

    Kami telah mendapatkan detail bank Anda departemen akuntansi kami akan meneruskannya ke bank sekarang. Pinjaman Anda dapat dikirim ke bank Anda hari ini jika Anda dapat membayar biaya pendaftaran pinjaman Anda hari ini dan itu hanya fee yang Anda bayar di perusahaan ini, perusahaan kami telah menyelesaikan Semua pihak lain terlibat dalam transaksi ini

  71. waldemar sinambela says:

    selamat pagi.salam hebat.saya tertarik bangat ikut program S3,saya butuh bantuan para saudara bapak/ibu tentang penjelasan bangaimana proses untuk ikut program S3. saya lulusan S2 dari dunia maritime(pelayaran) bisa ngak saya ikut S3.tolong penjelasan dan informasinya klu boleh bisa hubungi saya di 081343650927.thanks.salam hebat

  72. Hakim Lubis says:

    Selamat Siang B&M. Saya, seblumnya menyelesasikan S1 sya di salah satu kampus di Kabupaten Wilayah Sumut, karena sya ASN di Pemda setempat.
    Belum berapa lama ini saya pindah tugas, tepatnya di Kota Medan.Semenjak di kota Medan Saya sangat berkeinginan lanjut S2 next S3.Harapan ini saya dedikasi untuk Almarhum Papa dan Keluarga untuk masa depan yang baik.

  73. Windy Sihombing says:

    Saya seorang serjana S1 Manajemen Pendidikan Islam, saya ingin sekali melanjutkan S2 sampai S3, namun kendala saya adalah soal dana kuliah yang tuk saat ini saya tidak sanggup memenuhi hal tersebut.

    sebagian teman-teman bilang usulkan untuk mendapatkan beasiswa, namun saya sangat pesimis dengan beasiswa tersebut karena saya pernah coba selalu gagal.

    jadi apa bila dari rekan-rekan di sini ada yang dapat membantu saya untuk kuliah S2, khususnya untuk uang kuliah saja, saya sangat berterima kasih sebesar-besarnya.

    Saat ini saya bekerja di suatu Lembaga Pendidikan yaitu Madrasah Ibtidaiyah, dan saya belum sertifikasi saat ini.

  74. arahdian says:

    Ok bagi para calon doktor apabila mau translate dokumen dan membuat peta silakan hubungi kami di 0852 1083 4916 atau 0859 2162 7094

Leave a Reply