Beberapa perguruan tinggi menerapkan proses wawancara dalam melakukan seleksi mahasiswa S3. Tujuannya adalah untuk mengkonfirmasi kesiapan mahasiswa dalam menghadapi kehidupan akademiknya saat menjalani program S3. Pada umumnya wawancara dilakukan terhadap calon-calon yang telah lolos seleksi administratif.

Wawancara bisa dilakukan dalam setting formal maupun agak informal. Dalam setting formal seperti yang dijalankan di jurusan saya, calon mahasiswa dipersilakan memberikan presentasi tentang rencana penelitiannya di hadapan panelis yang terdiri dari beberapa dosen, kemudian diikuti dengan tanya jawab seputar rencana tersebut. Tidak tertutup pula kemungkinan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan juga menyangkut hal-hal seperti pengalaman, pekerjaan, publikasi, dan hal-hal lain yang bisa menunjukkan kesiapan calon mahasiswa.

Kadang-kadang penguji wawancara adalah dosen yang memiliki bidang keilmuan berbeda dengan calon mahasiswa. Berbekal naskah proposal calon mahasiswa, penguji harus menentukan apakah si calon bisa diterima dalam program S3 atau tidak. Karena tidak mungkin bagi penguji untuk mengeksplorasi secara rinci tentang substansi penelitian, maka ia cenderung akan menanyakan secara umum tentang kelayakan topik riset dan pemahaman calon mahasiswa terhadap topik risetnya. Dalam kondisi seperti ini, yang banyak berperan adalah logika dan keruntutan usulan riset. Beberapa pertanyaan yang sering muncul antara lain:

“Mengapa topik ini menarik untuk diteliti?”

“Apa kontribusi ilmiah dari penelitian ini?”

“Apa perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya (atau: di mana letak kebaruan penelitian ini)?”

“Bagaimana penelitian ini akan dijalankan?”

“Apa hasil yang diharapkan?”

“Bagaimana membuktikan bahwa klaim yang ditawarkan itu benar?”

Para penguji adalah dosen yang bergelar doktor. Bagi mereka, hanya penjelasan yang logis dan runtut yang dapat memuaskan rasa ingin tahu mereka. Kalau mereka belum merasa puas, mereka akan mengeksplorasi lebih jauh dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih detil/rinci. Calon mahasiswa harus bisa merespon pertanyaan-pertanyaan mereka dengan jawaban-jawaban yang jelas, fokus, dan argumentatif. Bagaimana agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan baik? Satu-satunya jalan adalah dengan benar-benar memahami area penelitiannya dengan baik pula, dan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, hal ini memerlukan persiapan tersendiri dan waktu yang cukup.

Yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa para penguji adalah orang-orang yang pernah mengalami proses belajar pada jenjang S3. Artinya, meskipun secara keilmuan bidang mereka berbeda, tetapi mereka memiliki “sense” untuk mendeteksi apakah calon mahasiswa memiliki kesiapan dalam menempuh program S3. Ibaratnya seorang sopir yang berpengalaman, dia bisa meng-assess kemampuan seorang sopir baru dengan memperhatikan bagaimana si sopir baru mengemudikan mobil. Jadi jangan menyepelekan tentang kemampuan mereka.

5 Comments on Persiapan Studi S3: Menghadapi Wawancara

  1. Jacob says:

    Terimakasih untuk tulisannya Pak

  2. Aniek says:

    sangat membantu persiapan saya pak…terima kasih.

  3. Dewi says:

    Trima kasih ya Pak…tulisannya sangat bermanfaat buat sy untuj menghadapi tes wawancara

  4. Arisandi Sapri says:

    terima kasih pak…. tulisan bapak sangat meembantu saya untuk menyiapkan diri melanjutkan kuliah S3….

  5. Athaillah says:

    Bakda salam, Trimakasih banyak, ini mendorong saya un meyakinkan saya untuk melanjutkan S3, semoga Allah memberikan ridonya kepada kita. AMIN 99x

Leave a Reply