Tanggal 11-12 Maret kemarin saya diberi tugas untuk mengikuti Working Group Meeting AUN/SEED-Net untuk persiapan pelaksanaan Batch III proyek ini. AUN/SEED-Net adalah jejaring perguruan tinggi ASEAN di bidang keteknikan (engineering). Ada 26 perguruan tinggi anggota (dari Indonesia adalah ITB, UGM, UI, dan ITS – dua yang terakhir baru bergabung di tahap ketiga ini), yang bermitra dengan 14 perguruan tinggi Jepang. Memang jejaring ini dibangun dengan sponsor JICA Jepang, sehingga keterlibatan perguruan tinggi Jepang memang sangat tinggi.

Ada banyak program di AUN/SEED-Net, dari mulai pengiriman mahasiswa untuk studi S2 dan S3 yang dibiayai (beasiswa), berbagai program riset, staff mobility, sampai penerbitan jurnal ilmiah. Semua didanai oleh JICA, meskipun pada tahap ketiga ini sudah mulai muncul pembiayaan secara cost-sharing oleh perguruan tinggi anggota untuk berbagai program tersebut. Mengapa harus cost-sharing? Munculnya keharusan untuk ikut membiayai biasanya disikapi secara defensif. Tadinya menerima bantuan penuh, sekarang harus ikut urunan sebagian, tentu saja perubahan ini bisa membuat kaget.

Sebenarnya cost-sharing itu sesuatu yang wajar dalam sebuah jejaring. Cost-sharing menunjukkan ciri/karakteristik jejaring yang berlanjut (sustained), karena sudah sewajarnya pembiayaan untuk berbagai kegiatan yang dilakukan didukung oleh para anggotanya dan tidak menggantungkan pada dukungan eksternal. Ada kemandirian di sana. Jadi tidak selayaknya usulan cost-sharing disikapi secara negatif (i.e., tidak mau ikut urunan, misalnya).

Pertanyaannya sekarang bergeser: okay, kalau ikut menanggung beban biaya, mestinya kita harus bisa mendapatkan manfaat yang lebih besar daripada pengeluaran biaya itu bukan? Otherwise, kita akan rugi. Bagaimana bisa mendapatkan manfaat itu?

Nah, ini yang menarik. Disadari atau tidak, apapun yang kita lakukan itu selalu terkait dengan apa yang dilakukan pihak lain. Ada hubungan saling mempengaruhi: X mempengaruhi Y dan dipengaruhi Z, dan seterusnya. Kalau dirunut, akan terbentuk “rantai” yang sering disebut dengan rantai nilai (value chain). Rentetan kegiatan pada sebuah rantai selalu terkait dengan proses penciptaan atau peningkatan nilai (value creation/addition). Contoh sederhana: dari minyak bumi yang ditambang dari dalam bumi sampai berubah menjadi bahan bakar, bahan kimia, hingga produk kosmetik, pasti melalui banyak proses yang dijalankan oleh entitas-entitas pemroses (i.e., industri). Tiap entitas melakukan sesuatu yang membuat nilai produk berbasis minyak yang dikembangkannya semakin tinggi nilainya. Di sebuah simpul dalam sebuah rantai, proses value creation/addition yang kita lakukan harus menghasilkan output yang lebih besar daripada inputnya.

Kembali ke contoh cost-sharing tadi. Anggaplah terlibat dalam suatu kegiatan di jejaring adalah input, dan utk mendapatkan input ini perlu biaya juga. Artinya, input itu sebuah cost component yang harus diubah menjadi output dengan nilai yang lebih tinggi sehingga bermanfaat bagi kita. Yang menjadi persoalan adalah kita sering hanya berfokus pada masalah input saja. Kita lupa bahwa kita harus menjalankan proses value creation/addition untuk menghasilkan output yang bernilai tambah. Sebagai contoh, dalam jejaring AUN/SEED-Net misalnya, perhatian kita sering hanya pada apa yang bisa kita dapatkan dari jejaring itu. Kita hanya memikirkan bagaimana caranya mendapatkan beasiswa, bagaimana bisa meraih hibah riset, bagaimana bisa melakukan short visit ke negara lain, dan tidak mengaitkannya dengan konteks yang lebih luas. Ketika untuk meraih itu menjadi tidak mudah karena berbagai hal (dalam contoh di atas, karena munculnya kewajiban cost-sharing), hilanglah semangat kita.

Menariknya, situasi seperti di atas terjadi juga dalam keseharian kita. Jika untuk melakukan sesuatu ternyata kita harus mengeluarkan usaha lebih besar, sering kali kita mengeluh berkepanjangan.

Cara pandang ini harus berubah. Dalam banyak situasi, kita harus cerdik membaca peta untuk bisa memaksimalkan nilai yang kita hasilkan. Jika dari rantai yang ada sekarang kita tidak bisa berharap ada peningkatan nilai, carilah rantai yang lain. Bentuklah rantai baru jika perlu. Jika untuk bisa studi lanjut harus keluar biaya, jangan lantas menghindarinya. Justru carilah peluang-peluang lain yang bisa dilakukan dengan hasil studi lanjut itu. Okay, sekolah S2 & S3 memang perlu biaya besar dan pengorbanan-pengorbanan, tapi sekolah juga menawarkan potensi peningkatan nilai yang luar biasa. Jadi jangan menyerah. Pikirkanlah, setelah dapat gelar S2 atau S3, apa yang bisa dilakukan agar ilmu yang diperoleh bisa membawa berkah yang banyak.

Contoh lain: mendapatkan dana riset itu memang sulit dan kadang ribet, tapi riset yang kita lakukan bisa memberikan manfaat besar. Janganlah lantas berhenti meneliti, sebaliknya carilah peluang untuk mengamplifikasi nilai hasil risetnya, sehingga usaha yang dikeluarkan bisa terkompensasi dengan manfaat yang dipetik. Masih banyak contoh lain, bahkan untuk hal-hal yang sepele, misalnya yang terkait dengan kehidupan mahasiswa: belajar menulis skripsi yang baik itu tidak mudah, tapi ini akan menjadi dasar untuk membangun kemampuan menulis ilmiah yang akan dipakai sepanjang hayat. Usaha sedikit saat ini bisa berbuah bukit emas di masa depan. Jadi mengapa tidak memikirkan manfaat yang luar biasa ini, lalu berusaha keras untuk menggapainya?

Intinya: ubahlah cara pandang kita. Jangan melihat dalam konteks sempit. Melihat secara meluas itu selayaknya dipraktekkan dalam tiap langkah kita, dalam konteks apapun. Mahasiswa belajar bukan karena kewajiban saja, dosen meneliti bukan hanya karena untuk keperluan naik pangkat saja, orang tua mendidik anak bukan hanya karena merasa itu sudah menjadi tugasnya. Instead, open our horizon. Kita melakukan semua itu karena ada manfaat luar biasa di masa depan. Dan jika ada kesulitan menghadang, jangan mudah menyerah. Ingatlah nilai/manfaat besar yang bisa diperoleh melalui usaha-usaha value creation/addition yang akan dijalankan. Tanpa mau melaksanakan proses-proses penciptaan/peningkatan nilai, kita hanya akan menjadi simpul yang statis yang lama-lama semakin melemah dan akhirnya pupus.

Manfaat lain dari memandang secara meluas adalah melatih diri untuk tidak mudah menyerah. Sebuah jejaring, apapun bentuknya, secara alamiah menyediakan alternatif-alternatif yang bisa ditempuh. Buntu di path tertentu, kita bisa mencari jalan lain melalui jalur yang berbeda. Tujuan yang sama, peningkatan nilai, bisa dicapai melalui jalur-jalur yang berbeda. Terbiasa melakukan hal ini akan meningkatkan survivability kita di jaman yang sangat dinamis ini.

Hidup berjejaring memerlukan cara pandang dan skill set yang sesuai. Intinya: kerjakan tugas kita sebaik-baiknya. Jika ada kendala, jangan mudah menyerah, karena di balik kesulitan itu selalu ada manfaat besar, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk pihak-pihak lain. Sesungguhnya ada petunjuk-petunjuk Tuhan dalam tiap apa yang diciptakan-Nya…

 

3 Comments on Hidup berjejaring: apa yang diperlukan?

  1. Tatiya says:

    sebuah pencerahan yg ruar biasa pak..

  2. Arif Roziqin says:

    Hasil dan manfaat di masa yang akan datang biar waktu yang menjawab, yang penting berkarya dan berkontribusi.

  3. Hayati says:

    TQ,semakin semangat u berjejaring.

Leave a Reply