Jumat 12 April 2013 kemarin adalah hari yang membahagiakan. Tim NextIn Futura berhasil menjadi juara Imagine Cup Indonesia 2013 untuk kategori World Citizenship. Tim yang beranggotakan mahasiswa Prodi Teknologi Informasi JTETI UGM dan Prodi Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, semuanya angkatan 2010, pada akhirnya bisa meraih posisi tertinggi dalam lomba tersebut.

Kita semua gembira dan bangga dengan prestasi ini. Prestasi adalah muara, ujung akhir dari sebuah proses yang panjang. Proses ini biasanya dipenuhi dengan kerja keras, perjuangan, keprihatinan, pengorbanan, dan sebagainya. Yang ingin saya soroti dalam catatan ini adalah ujung awal dari proses menuju prestasi itu.

Saya kenal dengan Kalih, Sonny, dan Syukron, ketiga mahasiswa JTETI. Dulu pada saat pertama kali bertemu mereka, kesan pertama yang muncul adalah bahwa mereka adalah anak-anak yang lugu dan culun. Kesan saya, yang ada dalam pikiran mereka hanyalah kegiatan-kegiatan mainstream yang biasa dilakukan mahasiswa: kuliah, praktikum, nge-net, menjadi penggembira di kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, dan sedikit bersenang-senang.

Dengan kondisi awal seperti itu, saya membayangkan, untuk menetapkan niat dan memotivasi diri mengikuti lomba semacam Imagine Cup pasti perlu usaha yang cukup keras. Mengapa demikian? Karena pada saat berniat ikut lomba yang tingkat kompetisinya begitu keras, di bayangan mereka pastilah muncul keharusan untuk bekerja keras, berlatih tekun, memupuk kesabaran, dan berkorban. Dan semuanya itu menunjuk ke satu hal: keluar dari zona nyaman (comfort zone).

Ya. Keluar dari zona nyaman itulah yang sering jadi kendala bagi kebanyakan dari kita. Memaksa diri untuk meninggalkan cara pandang dan kebiasaan yang mengenakkan diri jelas tidak mudah, apalagi manusia memang dikenal sebagai mahluk yang tidak suka dengan perubahan. Siapa yang mau meninggalkan keasyikan dalam berlama-lama bermain jejaring sosial? Siapa yang bisa menangkis godaan untuk sering hang out bersama teman-teman? Dan tidak ada yang menyangkal nikmatnya bangun jam 11 siang setelah malamnya nonton bola atau main game online. Itulah zona nyaman mahasiswa. Menyenangkan untuk dijalani, tapi tidak akan membawa kita kemanapun, karena kita akan menjadi setitik buih yang larut dan hanyut bersama aliran sungai, kemanapun aliran itu membawa kita. Dan sebagai buih, tidak ada orang lain yang memperhatikan kita. We have nothing worth to look at.

Jadi keputusan untuk berani keluar dari zona nyaman adalah keputusan yang luar biasa. Luar biasa karena kita bersedia untuk menjalani segala ketidaknyamanan demi sesuatu yang belum jelas hasilnya. Lho kok belum jelas? Iya lah. Siapa yang bisa menjamin setelah kerja keras lalu hasilnya pasti menang? Tidak ada. Buktinya, tim-tim JTETI yang ikut Imagine Cup sebelumnya belum ada yang berhasil menjadi juara. Kurang kerja keras apa mereka dalam mempersiapkan diri? Sekali lagi, tidak ada jaminan keberhasilan untuk mendapatkan kemenangan dan ketenaran setelah kerja keras yang kita jalankan. Lalu manfaat apa yang bisa dipetik dari kesediaan untuk keluar dari zona nyaman tadi?

Well…keluar dari zona nyaman itu sebenarnya sebuah proses pendidikan dan pelatihan. Kita dididik dan dilatih untuk menjadi lebih baik, dalam banyak hal. Kalih, Sonny, dan Syukron jelas sekarang adalah anak-anak yang punya kompetensi tinggi dalam hal teknologi pengembangan software. Tapi sebenarnya bukan itu saja. Pelatihannya juga menggembleng aspek kepribadian dan cara pandang. Saya yakin mereka sekarang menjadi orang yang bisa lebih sabar, lebih tekun, lebih bisa menghayati pentingnya usaha dan pengorbanan, dan jelas lebih pede. Setelah lomba kemarin, pasti sekarang mereka bisa mengatakan,”Kami juga bisa!”. Cara pandang mereka sekarang terhadap berbagai hal yang mereka hadapi pastilah beda dibandingkan dengan dulu.

Bahkan jika misalnya mereka tidak menang di lombapun, banyak manfaat yang diperoleh. Coba tanya Risqi Utama, sang mentor tim NextIn Futura. Dia dan timnya tidak berhasil menjadi juara di Imagine Cup 2012, tapi dia berhasil menjadi juara INAICTA 2012 dan APICTA 2012 dan juga Mandiri Youth Entrepreneurship. Keberhasilan bisa saja muncul di tempat lain, dalam bentuk yang berbeda-beda, dengan derajad yang berbeda-beda pula. Yang jelas, di manapun munculnya, ia diawali oleh hal yang sama: kesediaan untuk bekerja keras, berjuang, dan berkorban.

Sebagian mahasiswa telah berhasil meninggalkan zona nyaman mereka dan memetik hasilnya. Bagaimana dengan anda? Mestinya anda juga bisa. Yang diperlukan adalah keberanian saja…keberanian yang akan mengubah jalan hidup anda selanjutnya…

 

8 Comments on Keluar dari Comfort Zone: Keputusan yang Mengubah Segalanya

  1. Fandi Pasaribu says:

    Subhanallah, air mata saya berlinang ketika membaca postingan di blog bapak ini, jujur saya sedang berada di zona nyaman, postingan ini menjadi cambuk bagi diri saya, bukan hanya para pemenang imagine cup mahasiswa bapak, saya menyatakan benar dengan apa yang bapak sampaikan,saat nya untuk saya pribadi dan para mahasiswa lain nya segera meninggalkan zona nyaman ini, terima kasih pak telah memberikan sebuah pencerahan, saya harus berani keluar dari zona nyaman ini

  2. Fandi Pasaribu says:

    Subhanallah, air mata saya berlinang ketika membaca postingan di blog bapak ini, jujur saya sedang berada di zona nyaman, postingan ini menjadi cambuk bagi diri saya, bukan hanya para pemenang imagine cup mahasiswa bapak, saya menyatakan benar dengan apa yang bapak sampaikan,saat nya untuk saya pribadi dan para mahasiswa lain nya segera meninggalkan zona nyaman ini, terima kasih pak telah memberikan sebuah pencerahan, saya harus berani keluar dari zona nyaman ini..

    • lukito says:

      Selamat berjuang mas Fandi. Jalan di depan anda jelas tidak akan mudah, tapi itulah satu-satunya jalan untuk menjadi lebih baik… Semoga sukses! 🙂

  3. oOk says:

    Makasih pencerahanny pak LEN, tulisan ini mendukung saya untk lbh berani membuat kputusan keluar dri zona nyaman. Makasih

  4. Fandi Pasaribu says:

    Siap pak, saya akan berani melaksanakan nya,saat ini saya takut terlena dalam situasi saya yg kuliah di PTS yogya, Do’a kan saya pak, smoga tahun ini saya bisa kembali mencoba PTN UGM, agar apa yg saya dan kedua orang tua saya cita-cita kan dapat terwujud, bisa kuliah di UGM kemudian bisa berjumpa dengan bapak, hehehehe

  5. sri rahayu says:

    Membaca postingan ini, semakin menguatkan tekad saya untuk keluar dari zona nyaman.

    Saat ini alhamdulillah, hidup kami sekeluarga sudah nyaman (standar kami). Tinggal membesarkan dan mendidik anak2, sambil menekuni pekerjaan yang ada.secara materi walau tidak kaya,tapi cukuplah.

    Namun, kami bertekad untuk melanjutkan studi S3 di Jawa.
    Untuk itu kami harus meninggalkan rumah kami yang asri,keluarga besar saya, teman,sodara..

    Ini jelas bukan keputusan yang mudah. “Mundur satu langkah, untuk maju beberapa langkah” .Semoga Allah Swt, memudahkan segalanya.amin

    Terima kasih

    • lukito says:

      Semoga sukses. Studi lanjut, apalagi dengan meninggalkan lingkungan asal, memang berat. Semoga diberi kelancaran dan kelak dapat memetik buahnya yang manis… 🙂

Leave a Reply