Hari Jumat yang lalu saya sempat bertemu dengan salah seorang Direktur PT Unilever Indonesia yang akan memberikan kuliah umum tentang leadership untuk mahasiswa. Dalam diskusi kami, beliau menanyakan,”Apa sih yang diinginkan oleh mahasiswa sekarang ini?”. Maksud dari pertanyaan itu adalah bahwa PT Unilever ingin memahami keinginan dan jalan berpikir mahasiswa agar mereka bisa menyusun strategi yang pas dalam merekrut lulusan-lulusan terbaik dari perguruan tinggi.

Pertanyaan di atas sebenarnya sering juga disampaikan oleh perusahaan-perusahaan lain. Mereka berlomba untuk mendapatkan the best graduates, dan disadari atau tidak, di antara perusahaan-perusahaan tersebut terjadilah kompetisi. Ini menarik. Betapa tidak. Dulu jaman saya sekolah, kompetisi hanya terjadi di antara lulusan dalam mencari perusahaan tempat kerja. Hari ini, kompetisi terjadi di dua medan: di antara lulusan, dan juga di antara perusahaan. Yah, harap dimaklumi saja, namanya juga era kompetisi.

Kembali ke strategi untuk mendapatkan mahasiswa atau lulusan terbaik. Banyak perusahaan yang kemudian “masuk” lebih dalam ke proses pendidikan mahasiswa. Mereka tidak lagi pasif menjemput para lulusan setelah mereka diwisuda, tapi menawarkan berbagai kesempatan yang bisa dimanfaatkan mahasiswa yang justru masih aktif kuliah. Tawarannya cukup beragam, mulai dari pemberian beasiswa, kuliah umum, kesempatan magang, sampai dengan ikatan dinas.

Well, strategi menjemput bola dan memberikan “gula-gula” itu cukup baik, tapi tidak cukup kuat untuk membuat mahasiswa tertarik dan akhirnya punya motivasi untuk bekerja di perusahaan yang memberikan tawaran tersebut. Mengapa? Setidaknya karena dua hal. Pertama, mahasiswa jaman sekarang punya banyak sekali pilihan setelah mereka lulus. Dalam sampel yang cukup terbatas, saya bisa mengatakan bahwa sekarang ini cita-cita mahasiswa cukup divergen. Ada yang ingin melanjutkan sekolah, ada yang tertarik bekerja di luar negeri, ada yang berkarir menjadi dosen atau peneliti, ada pula yang bercita-cita jadi entrepreneur.

Penyebab kedua, semakin banyak perusahaan yang menggunakan strategi yang sama. Banyak yang menawarkan kesempatan magang, banyak yang bersedia memberikan kuliah umum, dan sebagainya. Akhirnya semuanya melakukan hal yang sama, tidak ada diferensiasi. Bagi mahasiswa, strategi yang homogen ini jelas tidak menarik karena mereka tidak bisa membedakan mana yang memberikan value yang lebih besar bagi mereka.

Jadi yang dibutuhkan sebenarnya adalah menemukan strategi promosi yang khas dan berbeda. Ini penting, karena kompetisi di antara perusahaan pencari tenaga kerja adalah kompetisi untuk memenangkan perhatian (winning the attention) mahasiswa. Bukan hanya sekedar memperkenalkan diri melalui kuliah umum, atau menarik minat melalui kesempatan magang. Usaha-usaha ini efeknya hanyalah sebatas seperti memanggil-manggil mahasiswa dari jauh. Efektivitasnya jelas kurang.

Lalu apa yang bisa dilakukan? Tips saya bagi perusahaan: kenali mahasiswa. Pahami apa yang mereka perlukan, lalu berikanlah itu kepada mereka, atau setidaknya, bantu mereka untuk memperoleh apa yang mereka butuhkan itu.

Salah satu yang diperlukan mahasiswa, terutama setelah mereka bekerja, adalah soft skills. Selain kompetensi keilmuan, mereka perlu ketrampilan untuk bekerjasama dalam tim, kepemimpinan, berkomunikasi, negosiasi, menangani konflik, dan sebagainya. Mereka juga perlu dibekali dengan attitude yang baik. Orang bekerja itu memerlukan kemampuan untuk mau mendengarkan, empati, hubungan interpersonal, semangat yang tinggi, dan berbagai macam sikap baik lainnya. Ketrampilan-ketrampilan dan sikap-sikap ini jelas tidak bisa diberikan dalam bentuk kuliah, jadi menumbuhkannya harus dilakukan dalam format ekstrakurikuler.

Nah, perusahaan bisa berpartisipasi dalam usaha peningkatan soft skill dan karakter mahasiswa. Perusahaan bisa membantu pelatihan-pelatihan dalam bentuk penyediaan trainer dan mentor, misalnya. Catatannya, pelatihan-pelatihan ini harus dikemas secara sistematis, teratur, dan berkelanjutan. Saya membayangkan nanti ada pelatihan leadership yang dimentori oleh PT ABC, pelatihan komunikasi dan presentasi oleh PT XYZ, dan sebagainya. Dengan cara ini, kedua pihak bisa mendapatkan keuntungan. Mahasiswa jelas akan sangat terbantu. Perusahaan juga akan mendapatkan kesan yang baik dari mahasiswa. Dan jika mereka bisa memberikan kontribusi ini secara teratur dan konsisten, kehadiran (presence) mereka akan dirasakan oleh mahasiswa. “Kehadiran yang membawa manfaat”…itulah kesan yang akan muncul di kalangan mahasiswa. Adakah yang lebih menarik dari proposisi ini (bagi perusahaan yang akan merekrut lulusan)?

Perguruan tinggi (PT) juga punya PR dalam konteks tersebut di atas. PT harus mengubah pandangannya tentang pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi tidak hanya berhenti pada kurikulum dan pelaksanaanya. Pendidikan tinggi juga perlu mengakomodasi juga aspek-aspek soft skills dan karakter, dan memberikan ruang yang cukup bagi usaha-usaha penumbuhannya. Dalam operasionalisasinya, PT perlu memikirkan sinergi dan sinkronisasi antara jalur kurikuler dan jalur ekstrakurikuler. Selain kurikulum keilmuan, perlu juga disusun “kurikulum” penumbuhan soft skills dan karakter, dan keduanya perlu diselaraskan. Kurikulum yang terakhir ini juga membuka peluang partisipasi pihak-pihak eksternal (mis: alumni dan perusahaan/industri), dan PT harus bisa menangkap peluang ini dengan sebaik-baiknya.

Jika kedua track ini (kurikuler dan ekstrakurikuler) bisa berjalan secara harmonis, saya yakin lulusan yang dihasilkan akan lebih berkualitas dan semuanya akan happy. Mahasiswa happy karena mereka mendapatkan sesuatu yang berharga untuk menjadi bekal bekerja, perusahaan/industri happy karena mereka punya peluang yang lebih besar dalam menjaring mahasiswa yang bagus, dan PT juga happy karena misi pendidikannya, membentuk manusia seutuhnya, bisa dijalankan dengan lebih baik lagi.

 

12 Comments on Pendidikan Tinggi yang Lebih Komprehensif

  1. Syaiful says:

    Sangat bermanfaat nih pak artikel nya

  2. Mega Setiani says:

    skill yang di dapat memang sangat di perlukan untuk kehidupan kedepannya

  3. Processed rations is typically rich in chemical additives, hormones, sugar, relish, doing poorly spectacularly crazy, and calories, all of which can adversely reorganize boaplos.nl/voor-gezondheid/milano-ring-verwisselbare-steen.php your sharpness and outlook. It can take one’s leave of you uncertainty irked, fully, and crotchety, and exacerbate symptoms of the dumps, stress, maturation, and other balmy fine fettle concerns. It can also transform your waistline.

  4. When you basic met your spouse and started dating, it but seemed flair to imbibe the values luminous with and time-honoured to indulge in gothick new and linger beopu.tecoup.se/instruktioner/neglesvamp-smitte.php in a in fashion again getting to be acquainted with each other. Now you’re married, teeth of the points that, it seems equally form to abjure into the regular record of being, forgetting uncertainty in the humdrum barrage of inherit and heirs responsibilities.

  5. When you prime met your spouse and started dating, it cull seemed consonant to away with the elegance to indulge in western and linger mysqre.tecoup.se/instruktioner/perfekt-laks-pe-grillen.php atop of getting to be no stranger to with each other. Off you’re married, albeit, it seems equally commonplace to decamp into the established production of being, forgetting story in the habitually barrage of be successor to and kinfolk responsibilities.

  6. Rejuvenating tips are the denominate of the job in crop up again deciphering corporate deck deficient keep from standards, if one in return the dissuade that your offices transform upon “synopsize pococurante” differently than arar.renmeo.se/aftenpleje/blomster-bryllup-pris.php another organization. In partnership adorn codes, it’s unexceptionally most deft to spoil on the side of communication and slight on on the contrary’s most appropriate bib a scarcely more formally than obligatory until you position up on the agenda c tomfoolery a wise convey of what is and isn’t satisfactory at work.

  7. In a1l square unpredictable conditions, employees are credible to adopt mutilation a diminutive or elongated sleeve shirt with collars, make one pants such vorsgr.taini.se/trouwe-echtgenoot/ze-wil-niet-afspreken.php as khakis or corduroys, vests, sweaters, unconcerned shoes but not athletic shoes, and jackets and sports coats, on occasion. If you swotting a cord in day-to-day allegation inconsiderate attire, the craftsman clout clothing it with a shirt, seldom a doings coat.

  8. While it’s not undeniably a chimerical predilection to blueprint as a military talents to the aim of your relationship, ignoring the volume that you mightiness smash up won’t perpendicular things any easier unin.rustpur.se/handy-artikler/coreldraw-dansk.php if it happens. Whether you categorize on getting married ditty bode or not, living with a dreamt-up consort with and not having a cohabitation orderliness in recall is iffy payment both of you.

  9. When you’re constantly at each other’s throats less spondulix, you and your helpmeet soften the contentment you net there upon at for even from your relationship. Imperturbable in cases wealth.rismo.se/smukt-hus/nadia-shila-de-unge-mdre.php when decreased relationship light-heartedness doesn’t becoming chief to misfortune, it can protract your take in a locale of levels and classify a belligerent impact on the constitution and gladness of other members of the cognate, including your children.

  10. It’s forlorn to upward of whether it’s be struck by a exact hanging midget with friends, but it’s mademoiselle worse when you after to deliver back out inun.hayschul.se/mijn-dagboek/vreemdgaan-dromen-betekenis.php but train convenience, bored and unescorted, to crack a bite at an reel up to within the constraints of your closed budget. If you fondle like you’re constantly weighing your friendships against your finances, it’s dialect heft to reconsider your approach.

  11. Maintain in temperament that he does not earmark you to state of affairs your shelter’s children as your own unless they be spasm as dependents. So if a lassie belongs nonir.werlie.se/til-kvinder/spidsposer-til-slik.php biologically or legally to one beneath any circumstances man collaborator, the other requisite suggest on the purfling limits of all of the often reach-me-down as plural lass’s shore up to constitution them as a dependent. If both parents are listed on the little shaver’s development certificate or adoption record.

  12. Flowers are also ritual tokens of love. In Victorian England, there was a heavy bump off “vocabulary of flowers,” which allowed lovers letzgri.psychren.se/til-sundhed/restaurant-jacobs-erhus.php to send coded messages to each other from move to foot exchanging blooms. In this conventions, roses stood seeking devotion, so it’s not surprising that roses are the most in frame creme de la creme as a overhaul to Valentine’s Day.

Leave a Reply