Malam minggu kemarin, seperti beberapa kali sebelumnya, saya diajak nonton bareng oleh mahasiswa-mahasiswa saya. Biasanya kami nonton dalam jumlah banyak, sekitar 10-15 orang, bahkan pernah sekali waktu rombongannya berjumlah 32 orang. Yang berbeda kali ini adalah yang mengajak. Kalau dulu yang sering mengajak adalah mahasiswa S1, akhir-akhir ini justru mahasiswa S2 dan S3, khususnya yang berasal dari Lab Aplikasi Terdistribusi dan Jaringan Komputer. Geng Jarkom, begitu kelompok ini dikenal.

Di JTETI UGM, Lab ini begitu dikenal karena suasananya yang vibrant. Begitu hidup dan dinamis. Tiap hari mahasiswa S2 dan S3 rajin mengunjungi lab ini, bukan hanya karena kewajiban untuk hadir (sit-in) yang diterapkan oleh Pengelola S2/S3 JTETI, tapi memang ada daya tarik tersendiri. Geng Jarkom memiliki rasa kebersamaan yang tinggi. Kalau makan siang, mereka beli atau pesan makan bareng-bareng. Kalau ada yang pulang kampung, pasti baliknya membawa oleh-oleh. Nonbar (nonton bareng) sudah sering juga. Mungkin ini karena merasa senasib sebagai sesama mahasiswa, tetapi saya merasakan adanya sentuhan-sentuhan humanis yang membuat para warganya memiliki kohesivitas yang tinggi.

Apa yang terjadi dengan Lab Jarkom sebenarnya menunjukkan fenomena yang muncul 2-3 tahun terakhir di JTETI. Kehidupan di lab serta semangat untuk meneliti begitu menonjol. Padahal sebelumnya, sulit untuk menumbuhkan semangat riset secara massal. Dosen melakukan riset secara individual dan tidak ada “ikatan” yang kuat antara penelitian mereka dengan penelitian para mahasiswa S2 dan S3.

Bagaimana perubahan ini terjadi?

Kisahnya dimulai dari kembalinya dosen-dosen muda JTETI dari studi lanjut di luar negeri, sekitar 4-5 tahun yang lalu. Mereka kembali ke kampus dengan semangat meneliti yang tinggi. Sebagai ketua jurusan waktu itu, saya mengatakan satu hal saja kepada mereka: silakan melakukan apapun yang disenangi. Selama itu mendukung program pengembangan jurusan, insyaAllah akan saya dukung semampu saya.

Dan itu sepertinya menjadi pemicu semangat teman-teman. Ada yang kemudian berinisiatif mencari hibah-hibah riset. Ada yang mencoba menjalin kerjasama riset dengan mitra di luar negeri, bahkan sekali waktu kami pernah mengundang dosen-dosen dari salah satu universitas di Malaysia untuk melakukan workshop identifikasi topik-topik riset bersama.

Para dosen muda itupun juga berinisiatif membentuk kelompok-kelompok riset (research groups). Inisiatif ini menjadi tonggak penting dalam penumbuhan atmosfer riset di JTETI karena research group (RG) menjadi wadah yang menyatukan dosen dan mahasiswa dalam menjalankan program-program riset yang lebih sistematis. RG ini memang tidak punya struktur formal. Eksistensinya cukup dideklarasikan di Rapat Jurusan, dan keanggotaannya juga bersifat bebas.

Saat ini kami memiliki beberapa RG: Pervasive and Mobile Computing, Intelligent Systems, HCI and Software Engineering, dan E-Government, Power Systems. Tidak semuanya aktif memang, dan yang aktifpun kegiatannya juga bervariasi.

Ada RG yang pertemuannya tidak mesti jadwalnya, tapi ada pula RG yang hampir tiap minggu mengadakan diskusi, mengundang mahasiswa untuk memresentasikan topik penelitiannya, entah itu yang baru akan diajukan atau yang sudah dijalankan. Yang jelas, saat ada diskusi, dosen-dosen anggota RG juga aktif ikut dan memberikan masukan bagi para mahasiswa. Mereka dengan penuh semangat mencoba menumbuhkan passion riset ke kalangan mahasiswa.

Saya rasa interaksi seperti inilah yang menjadi kunci berkembangnya atmosfer riset di JTETI. Mahasiswa menjadi termotivasi dan tidak takut lagi untuk ikut pertemuan-pertemuan rutin RG. Mereka bahkan mengajukan diri untuk presentasi, karena mereka tahu akan mendapatkan feedback dari dosen dan teman-temannya. Dan yang amazing buat saya, mahasiswa-mahasiswa program S2 CIO yang notabene berasal dari lingkungan pemerintah daerah justru sangat bersemangat mengikuti pertemuan-pertemuan RG. Sungguh kontras dengan stereotipe PNS Pemda yang “jauh” dari suasana riset.

Secara kelembagaan, adik-adik saya para dosen muda juga bergerak. Mereka berinisiatif mengubah struktur kurikulum program S2 dan S3. Unsur penelitian diperkuat dan ditarik ke semester yang lebih awal. Sejak semester satu mahasiswa sudah dikenalkan dengan apa yang harus mereka lakukan untuk menyiapkan tesis dan disertasi mereka.

Kami juga merestrukturisasi program-program magister yang ada. Dulu JTETI punya 3 program magister yang dideklarasikan untuk “mencetak para profesional” dan konsekuensinya bobot risetnya tidak terlalu besar. Sekarang Magister Teknologi Informasi, Magister Sistem Energi Elektrik, dan Magister Teknik Instrumentasi ditransformasi di bawah Program S2 Teknik Elektro. Selain untuk efisiensi penyelenggaraan, kami juga ingin memberikan bobot riset yang lebih besar. Untuk ketiga program magister tadi, riset yang dilakukan berbeda dengan riset yang sifatnya saintifik murni, karena lebih bersifat problem-solving. Sudut pandang kami: meskipun programnya untuk mencetak profesional, tetapi pada level S2, mahasiswa juga harus punya ketrampilan riset yang memadai.

Di jenjang S3, para dosen aktif memikirkan tema-tema payung riset. Kami sekarang memiliki beberapa tema payung yang menjadi pedoman bagi pemilihan topik riset mahasiswa S3. Sejak beberapa tahun terakhir ini, di dalam seleksi penerimaan mahasiswa S3, kami selalu bertanya: maukah anda mengerjakan riset yang temanya sesuai dengan tema yang ada di RG kami? Jika mau, mari silakan bergabung, jika tidak, mungkin memang kita tidak berjodoh. Itu sebabnya mengapa jumlah mahasiswa S3 kami per tahunnya tidak terlalu banyak. Sedikit, tapi selected.

Dengan cara-cara di atas kami pelan-pelan dapat membangun iklim yang kondusif. Ada wadah untuk melakukan kegiatan. Ada dukungan formal dari institusi. Ada para dosen yang bersedia merintis, memimpin, dan mengelola RG. Ada mahasiswa yang antusias menyambut kegiatan-kegiatan RG.

Di atas semua itu, menurut saya yang paling penting adalah adanya interaksi yang hangat antara dosen dan mahasiswa, dan hal ini perlu direkayasa juga. Alhamdulillah kami punya dosen dan mahasiswa yang “berbakat” melakukan rekayasa sosial. Mungkin orang-orang ini tidak sadar bahwa mereka punya bakat, tapi apa yang mereka lakukan kenyataannya bisa menumbuhkan kohesivitas antar warga RG. Ada yang suka “memaksa” dengan aturan formal. Ada yang bisa memotivasi mahasiswa yang sedang galau. Ada pula yang punya keahlian menjadi EO acara-acara fun seperti nonton bareng, makan bersama, dsb. Alhamdulillah semua ini seperti potongan-potongan kecil yang membentuk mosaik utuh yang indah.

Lalu hasil apa yang sudah diperoleh dari semua itu?

Mungkin belum banyak. Mungkin kami masih berada di belakang institusi-institusi lain yang sudah lebih dulu melangkah. Saya merasakan sekarang ini baru masa-masa pertumbuhan atmosfer riset, perlu pematangan sebelum kita berharap munculnya hasil-hasil yang signifikan. Meskipun demikian, perkembangan yang terjadi sungguh membuat kami senang. Salah satunya adalah gairah meneliti yang begitu tinggi di kalangan mahasiswa, bahkan di jenjang S1. Sekarang ini di JTETI cukup banyak mahasiswa S1 yang tertarik dengan topik-topik riset yang dikerjakan kakak-kakak S2 dan S3nya.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan beberapa pelajaran yang bisa saya dapatkan dari apa yang dialami JTETI dalam beberapa tahun terakhir ini

Pertama, untuk memulai sesuatu, perlu keterlibatan banyak pihak. Perlu ada komitmen institusional. Perlu ada orang-orang yang bersedia berkorban dalam merintis inisiatif tersebut. Dan juga perlu orang-orang yang mampu menggerakkan massa yang menjadi target, dengan berbagai macam strategi

Kedua, inisiasi perlu disertai dengan program yang jelas. Harus ada perencanaan yang sistematis tentang apa tujuannya dan bagaimana tujuan tersebut akan dicapai. Sekarang kami mulai berpikir tentang bagaimana tema-tema payung riset bisa diturunkan ke topik-topik penelitian S3, S2, S1, serta diajukan ke hibah-hibah dalam dan luar negeri.

Yang ketiga, kita perlu bekerja secara efektif dan efisien. Tidak harus semua minat riset didorong menjadi besar, karena resource kita terbatas. Perlu dipilih mana yang memiliki peluang terbaik untuk dibesarkan dan ditonjolkan.

Dan yang terakhir, menjalani semua dengan senang hati sepertinya akan mempermudah urusan-urusan kita. Meneliti dengan senang, menulis publikasi dengan senang, mempresentasikan ide atau hasil dengan gembira, semua itu pasti akan menimbulkan efek positif terhadap apa yang kita lakukan.

Saya juga yakin, selain efek positif dalam hal riset, pasti ada eksternalitas positif lainnya. Sebagai contoh, saya yakin meskipun nanti orang-orangnya kelak sudah berpencar kembali ke tempat mereka masing-masing, hubungan baik tetap akan terjaga. Network akan terbangun, dan ini pasti akan memberikan efek yang jauh lebih besar lagi. Bentuknya seperti apa, saat ini tidak ada yang tahu. Dan melihat hubungan yang begitu akrab di antara para mahasiswa yang masih lajang, siapa tahu pula secara personal tumbuh relasi-relasi spesial di antara mereka…siapa tahu…

(ditulis setelah episode makan siang bareng bersama geng Jarkom karena ada salah satu warga yg akan wisuda, ada yg baru saja pulang dari luar kota dan membawa sekarung makanan, dan ada yg berbaik hati memasak rendang dari Idul Qurban kemarin.)

2 Comments on Kehidupan lab itu membosankan? Engga tuh…

  1. agung says:

    Pak LEN, alumni boleh ikut gabung jadi anggota salah satu RG nggak ya?matur nuwun.

  2. Sirchan says:

    Pak LEN, non alumni boleh ikut gabung jadi anggota salah satu RG nggak ya? Tks.

Leave a Reply