Hari-hari ini saya sedang menemani seorang mahasiswa yg sedang berjuang menyelesaikan studinya. Waktunya tidak banyak lagi, sementara masih cukup banyak yg harus dia kerjakan. Dalam seminggu kami bisa 2-3x berzoom-ria, tapi jelas terlihat sekali kegalauannya ketika kami berdiskusi. Saya tak hendak bercerita tentang perjuangannya dan apa yang saya lakukan untuknya. Saya ingin berkisah tentang kegelisahan saya — yang selalu muncul ketika seorang mahasiswa terdesak oleh waktu.

Dalam situasi terpepet waktu, dapat dipastikan seorang mahasiswa tidak akan bisa memenuhi standar ideal saya terkait skripsi, tesis, atau disertasi. Ya, standar ideal saya memang tinggi. Di sinilah perang batin muncul: antara tetap memegang idealisme dengan melihat realitas. Dorongan idealisme sebenarnya cukup besar, semacam “ayolah, tetaplah berjuang…kamu bisa mencapai apa yang saya harapkan”. Tapi ketika saya melihat wajah-wajah galau tadi, seketika itu pupuslah keinginan ideal tadi. Yang saya lihat bukan hanya wajah si mahasiswa. Nampak juga wajah orang tuanya, istrinya, anak-anaknya, kolega di tempat kerjanya, dan orang-orang lain yang dekat dengannya.

Lalu apakah saya menurunkan standar ideal saya? Tentu saja. Sepanjang masih dapat memenuhi standar minimum obyektif yang dapat diterima, saya bersedia untuk menghapus harapan ideal saya. Ketika saya hanya berfokus pada idealisme, maka yang nampak hanyalah ego saya sendiri. Kepuasan diri. Peduli amat dengan mahasiswa.

Situasi berubah drastis ketika saya alihkan pandangan saya ke mahasiswa. Di sana saya melihat ayah ibu yang sangat berharap anaknya lulus. Nampak oleh saya, istri dan anak-anak yang hidupnya akan lebih baik karena karir si ayah akan menanjak setelah ia lulus. Saya juga menerawang ke mahasiswa yang akan mendapatkan ilmu yang lebih banyak jika dosennya bisa menyelesaikan studinya. Saya melihat pihak-pihak yang akan mendapatkan manfaat dari mahasiswa ini ketika dia berhasil lulus. Tentu ini jauh lebih berharga daripada memuaskan ego saya tadi.

Perang batin tidak berhenti sampai di sini. Masih saja terdengar bisikan, “jika kamu menurunkan standarmu, bagaimana dengan reputasimu?”. Atau semacam “Kamu pernah mendapatkan penghargaan terkait tulisan-tulisan ilmiahmu, apa kata orang bila tulisan bimbinganmu di bawah standarmu?”. Alhamdulillah bisikan-bisikan itu kalah dengan bisikan lain yang lebih jernih, “Jangan khawatir, kamu akan diurus dengan lebih baik lagi”. Setelah itu, pandangan idealisme itu berganti dengan pandangan lain yang lebih luas: membentuk bibit-bibit rahmat untuk alam.

Lalu apakah saya lepaskan dia begitu saja dalam sisa masa studinya? Tidak juga. “Genggaman” saya tidak mengendor, requirements saya tetap tinggi. Naskah yang ruwet ya tetap dikembalikan penuh dengan coretan koreksi. Permintaan saya masih banyak, dan saya masih tetap mendorong mahasiswa untuk memenuhinya. Bedanya, sekarang tuntutan tinggi itu bukan untuk memenuhi idealisme saya, tapi lebih untuk membentuk karakter. Tiada sukses tanpa kerja serius. Keberhasilan adalah buah dari daya juang dan keuletan. Kesabaran selalu akan bisa melewati rintangan, dan banyak lagi nilai kehidupan yang dapat dipetik. Kadang saya juga menyelipkan pelajaran bagi mahasiswa semacam “jika kamu menyepelekan sesuatu di awal, maka kamu akan meraskan akibatnya di kemudian hari”.

Saya percaya bahwa mempelajari, memahami, dan memraktekkan nilai dan pelajaran seperti di atas justru lebih penting daripada memaksakan ketercapaian standar akademik yang ideal. Dan dengan nilai dan karakter seperti inilah mahasiswa dapat membahagiakan orang tuanya, menghidupi keluarganya dengan layak, atau mengajar mahasiswanya dengan baik. Dengan semua itulah para mahasiswa kelak dapat menebarkan sinar kebaikan dan memberikan manfaat bagi lingkungannya.

Saya tidak mengatakan bahwa capaian akademik yang tinggi itu tidak penting. Peran mahasiswa yang bisa mencapai ini sudah jelas: mereka akan bersinar di panggung akademik. Saya hanya ingin mengatakan, tidak semua mahasiswa bisa mencapai hall of fame secara akademik, namun masih tersedia ruang yang luas bagi mereka untuk bisa menjalankan misinya menjadi rahmat bagi sekelilingnya. Untuk itu, mereka perlu bekal yang berbeda, dan seharusnya pendidikan bisa memberikan bekal semacam itu.

Pendidikan yang membentuk karakter. Kalau menurut pengalaman saya, ini hanya bisa terwujud melalui relasi yang harmonis antara mahasiswa dengan lingkungan belajarnya (terutama dengan guru/dosennya) di mana mereka bisa belajar melalui contoh, teladan, dan pengalaman yang bisa mereka refleksikan ke dalam diri sendiri.

Sungguh bahagia ketika tiga hari yang lalu DTETI UGM meluncurkan twibbon campaign tentang integritas dan kejujuran sebagai bagian dari karakter yang ingin dibangun. Semoga campaign ini bisa menjadi langkah awal bagi perubahan-perubahan besar di masa yang akan datang.
Selamat ulang tahun kampusku…

2 Comments on Refleksi seorang pembimbing

  1. Wah, trimakasih banyak Pak Lukito. sungguh dari tulisan bapak, sy banyak belajar bagaimana menjadi seorang pembimbing yang punya nurani dan tidak egois. sekali lagi trimakasih banyak pak

  2. Nurmaini says:

    Masya Allah…menginspirasi sekali tulisannya Pak. Terimakasih Pak Lukito. Wish You All The Best.

Leave a Reply